Rabu, 02 Desember 2015

BONEKA MUTIARA



BONEKA MUTIARA
                                                                    

                       
                                  

       “Wow, bonekamu banyak sekali Mutiara…pasti mahal harganya.” ucap Dita kagum.
        “Yang ini namanya Dikzy. Boneka bulu besar yang dibawa Ayah dari Amerika. Ini memang mahal,”
             Dita mendengarkan penjelasan Mutiara dengan seksama.
        “Kamu, belum lihat semua koleksiku, Dit! Di ruang utama banyaaakk.. sekali. Bonekaku sebagian ditaruh di sana. Kamu pasti akan kaget jika melihat koleksi bonekaku.” Mutiara menjelaskan dengan sombong.
        “Benar?” Kamu punya banyak?” Dita seakan tidak percaya.
        “Hm, banyak! Kamu ingin melihatnya?”
        Dita mengangguk. Lalu Mutiara menarik tangan Dita dan mengajaknya ke ruang utama.
        “Nah, kita sudah tiba. Sekarang pejamkan matamu sebentar.  Aku hitung 1, 2, dan 3 boleh kamu buka.”
        Dita mengangguk. Saat Mutiara menyuruh membukanya… “WOW, ini luarrr biasa. Bonekamu sungguh banyaak!!” Dita takjub melihatnya.
        “Sebanyak ini?”
        “Masih ada lagi. Sini akan aku tunjukkan!” Mutiara menarik tangan DIta.
        “WOW!” Dita  semakin terbelalak. Banyak sekali deretan boneka. “Kalau disebut museum boneka pasti bisa,” celetuk Dita.
        Mutiara tersenyum.“Ini sewaktu usiaku 3 tahun. Nenek membelikan boneka ini. Kalau yang kamu pegang itu boneka Duly Dum. Boneka ini dibeli di India. Itu boneka kesayangku.”
        “Kamu tidak memberikannya kepada saudara sepupumu, atau anak yatim piatu?”
        Mutiara menggeleng. “Sayang kalau aku memberikannya. Pastinya bonekaku akan kotor. Dan aku tidak mau sampai hal itu terjadi.”
        “Kalau menurutku sih sebaiknya sebagian kamu sumbangkan Mut! Jadi tidak menumpuk di ruang utama ini.” Dita  menyarankan. “Pasti akan lebih bermanfaat,” tambah Dita lagi.
        Malam itu Mutiara tidak bisa memejamkan matanya. Telinganya masih tergiang dengan perkataan Dita tentang bonekanya.
        “Mungkin lebih baik aku sumbangkan saja ke panti asuhan atau…” Tapi aku sayang kalau harus disumbangkan semua.Ah, aku jadi pusing!!” Karena Mutiara sangat mengantuk. Akhirnya ia pun tertidur.

                                      ------****-------

        “Hahaha…Mutiaaaaa…bangun. Ayolah bangun…” suara terdengar keras memekik telinganya.
        “Si…siapa kamu?” Mutiara sangat kaget sekali ketika melihat didepanya sudah ada beruang besar berbulu lebat sedang menyeringai.
        “Ha..ha..ha…akulah Dikzy si boneka berbulu lebat.”
        “Kalau aku Duly Dum, aku boneka masa kecilmu.” ucap boneka kecil itu ramah.
        “Bohong! Bukannya kalian adalah boneka yang tidak bisa bicara. Aku pasti bermimpi! TIDAK! SANA PERGI!” Dita histeris sekali.
        “AKU INGIN PERGI DARI SINI! MUTIARA!!! Boneka Duly Dum terlihat tidak ramah. Wajahnya menyeringai, perlahan-lahan muncul gigi taring satu persatu.
        “AKU JUGA BOSAN DITEMPATMU  YANG NYAMAN INI! DISINI AKU HANYA SEBAGAI PAJANGAN SAJA! Boneka Dikzy tak kalah kerasnya.
        “AYO MUTIARA….KEMBALIKAN KAMI KETEMPAT YANG NYAMAN!!” Boneka Dikzy dan Duly Dum semakin mendekat. Mata mereka terlihat merah.
        “TIDAK!!! TIDAK!! KALIAN JANGAN MENDEKAT!!” Mutiara menutup matanya dengan bantal guling.
        Perlahan namun pasti kedua boneka itu semakin mendekat,mendekat, dan mendekat.
        “Mutiara…bangun sayang. Kamu tidak sekolah?” Mutiara membuka matanya perlahan.
        “Ibuuuu!!! Teriak Mutiara sambil memeluk ibu erat.
        “Bu, tadi bukannya ada boneka besar?”
        “Boneka besar? Maksudmu ini?” Ibu memegang boneka Dikzy.
        “Lho, bukannya tadi bisa bergerak!”
        “Ah, kamu hanya bermimpi, Sayang!”
        “Bu, boneka-bonekanya kita sumbangkan saja, ya!” usul Mutiara
        “Lho kenapa sayang? Bukankah Semua boneka kesayanganmu?” ucap Ibu.
        “Tidak Bu, mungkin akan lebih bermanfaat jika semua boneka ini kita sumbangkan kepada anak-anak di panti asuhan.” ucap Mutiara.
        “Baiklah, kalau begitu. Sekarang lekas mandi nanti kesiangan ke sekolahnya,” ucap Ibu.
        “Baik, Bu! jawab Mutiara sambil mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi.
        Perlahan-lahan  Ibu menutup pintu kamar Mutiara. Di saat yang bersamaan Boneka Dikzy dan Duly Dum tersenyum senang.(Hdy love teach and write)