Jumat, 29 Januari 2016

SEBUAH GELANG


                                                  
Aku bukan wanita yang rapuh apalagi galau. Aku masih punya Tuhan yang selalu membantu kesulitan hambanya. Segala yang kamu punya sekarang memang hasil dari jerih payahmu. Tapi apakah kamu lupa? Setiap yang kamu lakukan ada peran aku juga? Aku membantumu dalam do’a-do’aku.
Lamunanku terhenti saat Lisa menghantarkan daun-daun kepadaku. Lisa memberi tanda agar aku menerima daun daun yang Lisa ambil. Lalu disuruhnya aku menyebar daun daun keatas. Lisa  terlihat senang. Ia lalu mengambil daun-daun kembali  lalu dilemparkan keatas lagi, “seperti hujan” begitu katanya. Ya, daun-daun berserakan seperti hatiku yang kini berserakan. Tapi aku tak mau larut dalam masalah seperti ini. Lamunanku kembali hadir saat pertemuanku dengan Uda Agus. Aku memanggilnya dengan Uda. Laki-laki berperawakan tinggi  itu telah membuatku luluh saat itu. Sikapnya berwibawa, tatapan mata yang tajam dan penuh pecaya diri memantapkan hati ini untuk menerimanya. Padahal Yanti sahabatku sudah jelas melarangnya. Entah! Aku tidak tahu alasan Yanti. Tapi karena aku sudah mencintainya maka aku menerima saat Uda Agus ingin melamarku.
“Apa?” Yanti setengah berteriak tak percaya saat aku menyodorkan undangan ke padanya.“Kamu yakin Ros?” Yanti memandang wajahku tak percaya.
Aku mengangguk. “Pikirkan lagi Ros! Aku tahu siapa Uda Agus itu! Kamu belum terlalu lama mengenalnya?” Yanti terlihat geram. Pandangannya seperti tidak suka  pada Uda Agus yang ingin menikahiku.
“Kamu tahu? Seisi kantor ini sudah tahu siapa Uda Agus itu. Cukup beberapa orang saja yang jadi korbannya. Bukan kamu. Plis!” pintanya.” Kamu pikirkan lagi, ya!” Yanti memegang erat tanganku. Ada kegelisahan disudut matanya.
Itulah pertemuan terakhirku dengan Yanti. Esoknya aku baru tahu Yanti telah berhenti bekerja. Alasannya aku tidak tahu. Menurut informasi dari teman kantorku Yanti mengundurkan diri. “Aku sih yakin Yanti cemburu kamu ingin menikah Ros,” Risma memberikan pendapatnya.
Aku diam saja. Tidak mungkin Yanti seperti itu. “Kamu tidak tahu Ros Yanti dan Uda Agus itu…” temanku tak melanjutkan perkataanya. “Ah, sudahlah! Aku do’akan semoga lancar acaramu nanti,” katanya sambil meningalkanku yang masih tidak mengerti.
            Dua Minggu setelah kejadian Yanti berhenti. Aku pun menikah. Bahagia rasanya. Adat Padang aku kenakan. Terasa berat tapi tak apalah. Aku yang berlatar belakang jawa hanya manut saja.
            Setahun setelah pernikahan kami Uda Agus, diberikan promosi naik jabatannya. Tapi yang aku rasakan akhir-akhir ini Uda Agus berubah. Tak sehangat dulu. Bahkan sudah berani ringan tangan kepadaku.
Kejadian lainnya lagi  masih terekam dalam memoriku. Saat aku mencari gelang berharga dari Uda tidak ada di dalam lemari Seperti ada yang mengarahkanku untuk mencari di dalam tasnya.
Aku temukan sesatu. Surat tergeletak disana. Bersampul merah muda. Persis anak SMA yang baru menemukan cintanya.
Mataku terbelalak saat membaca isi surat itu. Di dalamnya surat itu tertulis jelas,
Sayang? Cinta? Tak lama lagi kita bisa bersama?
            Saat deru motor terdengar aku buru-buru memasukan kembali ke dalam tasnya.
            Itulah awal dari prahara rumah tanggaku. Uda kini pulang selalu larut malam. Alasannya karena ada meeting.
            Sebuah surat berwarna merah jambu, handpone yang dipegangnya erat dan diberi password semuanya  dan puncaknya saat aku ke mall bersama anakku. Aku melihat seorang laki-laki yang sangat mirip Uda Agus memegang seorang wanita. Aku mengikutinya. Ya..aku mengikutinya. Mereka terlihat bahagia. Diantara mereka ada seorang anak sebaya dengan anakku. Aku kaget bukan kepalang saat anak itu memangil dengan Ayah. Dan saat seorang wanita merangkul pundak suamiku. Ditangannya ada gelang yang hilang. Gelang itu milikku. Aku pun berteriak memanggil namanya,” Uda Agus! Teriakku lantang.Suamiku begitu kaget. 
Dan betapa kagetnya aku saat aku tahu yang bersama suamiku adalah sahabatku yang dulu menghilang kini hadir kembali. Tatapan matanya terlihat penuh penyesalan. Aku tahu apa yang terjadi. Dan tak perlu penjelasan apapun. Aku dekati wanita itu. Jadi beginikah yang kamu takutkan Yanti?? Dan gelang yang kamu kenakan adalah gelangku. Apakah kamu lupa? Yanti terdiam tak berkata apa-apa. Anakku menangis aku memeluknya erat dan meninggalkan mereka bertiga.
            Lamunanku terhenti saat  anakku menarikku untuk pulang. Kuambil payung lalu kututup payung warna hitam yang tadi aku bawa. Ya, aku pun kini sudah mantap dengan keputusanku perselingkuhan yang dilakukan tidak aku terima.  Bahkan dalam agamaku  atas nama apapun itu pernikahan diatas pernikahan dan perzinahan yang dilakukan tidak aku terima. Sakit memang. Tapi aku harus melangkah pasti.
            Kususuri danau ditaman ini aku harap walau airnya keruh untuk saat ini seperti kisahku akan ada hari esok yang akan menanti. Bersama anakku pasti.

.