Minggu, 28 Februari 2016

BELAJAR MENULIS (KEMBALI) BERSAMA ODOP

Assalamu'alaikum sista? Moms, Bunda, atau siapa saja yang membaca tulisan ini. Sudahkah menulis hari ini? Minimal menulis belanjaan sehari -hari hihihih ( itu saya banget) Atau menulis belanjaan bulanan plus ditambah hutang-hutang bisa ciclan rumah, cicilan motor, bahkan cicilan media pembelajaran anak yaitu Boneka Hafiz Doll (hihihih)

Langkah menulis memang tidak mudah. Kalau ada yang bilang menulis aja dulu dibuku diary nanti lama kelamaan akan terbiasa kok ( benar juga) Ini simpel tapi perlu keistiqomahan atau belajar setiap saat. Melatih tangan (Kalau menulis dibuku) melatih jari-jari dan konsentrasi juga lho ( kalau di laptop atau di hp). 

Katanya menulis itu bisa jadi terapi. Lho ko bisa? Punya masalah? Dan kita mungkin seorang yang sangat tertutup. Tidak bisa mengungkapkan masalah. Bisa dituangkan di buku diary. Atau bisa juga membuat blog. Tulis deh! Kesedihan dan kegundahan bisa kita tuangkan dalam menulis. Kalaupun malu maka samarkan saja tokoh utamanya (hihihi). Buat menjadi cerita. (Baca juga pilihan Bunga)

Contoh tulisan diary seperti ini atau curahan hati bisa dituangkan di buku Diary atau blog ( Ini contoh ya hihihi bukan saya)

"Dear diary, hari ini sebel deh cucian numpuk, anak sakit daku jadi galau nih. Belum lagi listik dan pam mati. Suami sedang dinas luar kota. Ya, ampyuun jadi ibu begini sekali ya hiks. Semoga Allah selalu memudahkan aku melewati semua ini, dan memberikan pahala yang berlimpah. Aamiin."

Atau tulisan Joblower

"Dear Diary tau gak sih emak kemarin minta aku cepat-cepat merit. padahal kan belum ada siapapun yang berani ke rumah. Disuruh pacaran ihh...gak la yaw!! Mendekati zina namanya. Lagipula aku kan maunya dapat yang sholeh. Gimana ya? Hiks derita umur udah semakin nambah. Galau rasanya. Ya Allah semoga penantian ini akan berbuah hasilnya. Biar Allah akan memberikan disaat dan waktu yang tepat. Aamiin. Semangat selalu diriku." ( Ina sang gadis sholehah)

 Mungkin diatas sebagian contoh saja. Tapi menurut saya kalau  saya  menulis terakhir ada tulisan kata-kata penyemangat,kata-kata positif, do'a dan pengharapan. Karena setiap yang terbersit semoga menjadi kebaikan dan doa. Tentunya yang positif. Dalam tulisan itu misal (yang diatas) ada tulisan pengharapan.


Biarkan pembaca yang mengalami kasus seperti kita misalnya akan memandang hidup ini dengan positif. Nah, pahala dari tulisan yang kita buat kan akan mengalir tuh, kalau tulisan kita bermuara positif dan membuat orang semakin bersemangat dalam memandang hidup ini (hihihih) "Semoga Allah selalu memudahkan aku melewati semua ini) atau  Ya Allah semoga penantian ini akan berbuah hasilnya. Biar Allah akan memberikan disaat dan waktu yang tepat. Aamiin. Semangat selalu diriku." ( Ina sang gadis sholehah)


                                      "Menulis bisa menjadikan terapi"

Bagaimana kalau kasusnya seperti ini?

"Saya tuh rada ribet mbak kalau menulis? Nggak bakat. Tulisan saya masih aburadul. Tidak nyambung satu kalimat dengan kalimat yang lain," Sst... tenang saja Sist, Moms, Bunda, semuanya perlu proses kok. Tidak mudah memang, tapi alangkah baiknya dicoba.

"Umur saya sudah tua, belum ngurus anak inilah...itulah!" Sst... tenang moms kita coba saja. Ini tidak mengenal batasan usia kok. Star awalnya saja yang berat. Intinya langkah pertama memang berat tapi selanjutnya langkah-langkah itu akan tidak berat seiring kita memiliki atau tergabung dalam sebuah komunitas. Semua akan saling mendukung dan akan memberikan komentar positif. Percayalah! 
menulis melenturkan tangan
Sejak saya masuk kedalam group menulis tahun 2012. Berkenalan dengan mereka  yang sudah mempunyai semangat menulis. Dan saya selalu mengikuti pelatihannya. Akhirnya banyak teman dan saudara baru ( saya senang sekali). Semakin tertular semangat mereka ke saya. Saya juga ikut FLP Jakarta. Digawangi oleh seorang yang baik hati dan karyanya pun banyak. 

Saya pernah mengikuti pelatihan yang diadakan di Bandung oleh komunitas menulis anak. Pertama kali saya pergi sendiri ke Bandung. Naik travel akhirnya saya berkenalan dengan Mba Erna Fitrini  
(nama ini sering muncul dalam karya-karya anak di koran dan majalah). Pulangnya ke Jakartanya pun bareng lagi.



nimba ilmu di Bandung makan dulu hihihi


Salah satu obsesi saya minimal ada karya saya yang nanti saya bangakan dan bisa membuat anak semakin baik dalam bersikap.Dan Alhamdulillah Allah berikan kemudahan dan ada beberapa karya yang pernah muncul di koran Berani,

tulisan pertamaku


karyaku selanjutnya

Senang sekali. karya bisa dibaca. walau untuk honor waktu itu baru 1 kali. Dan seterusnya tidak dapat honor. Tapi tak apalah. Yang penting karya saya bisa dinikmati banyak orang.

Dua buku keroyokan hasil menulis Alhamdulillah sudah ada. Ada 5 penulis tergabung disana. Senang sekali.

Tapi sudah lama tidak bergabung dipush jadi kendor dalam menulis. Beruntunglah saya diperkenalkan oleh Ibu Waliyah mamanya Ayska tentang ODOP langsung meluncur dan registrasi ke mba  Maya. Alhamdulillah Tralala... jadilah peserta dikloter ke 2. Bersama teman-teman semoga semakin mempunyai lecutan lebih baik lagi. ODOP sebenarnya One Day One Post. Dimoderatori oleh Bang Syaiha. Cari deh di mbah google ( pasti dikenal hihihih)

pertemuan dengan ODOP

Semoga dengan keberadaan ODOP bersama teman-teman yang lain  akan membuat diri ini semakin  semangat   dalam menebar kebaikan melalui  tulisan. Aamiin.

Terakhir saya belumlah ahli. Tapi saya mau dan mau belajar. Dengan belajar semoga akan semakin terasah keterampilan kita. 


GANBATE semua. Mari saling mendukung dan menyemangati. Kalau bukan sekarang kapan lagi? Kalau bukan kita siapa lagi?








Jumat, 19 Februari 2016

MANFAAT MENDONGENG UNTUK ANAK


Assalamu'alaikum. Apa kabar sista, ibu muda, pengajar, dosen, atau siapapun yang begitu perhatian dan sayang kepada anak-anak bangsa. Senang deh bisa bertemu lagi. Berharap yang mengujungi RUMAH PENUH INSPIRASI bisa mendapatkan sedikit inspirasi. Aamiin

Pernah merasakan kesulitan ketika harus menceritakan sebuah cerita? Atau  semua yang sudah kita persiapkan menjadi hilang ceritanya hehheh...(grogi kali ya, yang ini)

Mungkin  anak sendiri minta dibacakan sebuah cerita atau dongeng oleh kita sebagai emaknya. Lalu kita menjawab "Duh, Mama nggak bisa nih! Adik aja ya, yang baca!

Pernahkah kah kehabisan ide dalam menceritakan sebuah cerita?  Atau ingin sekali merubah karakter siswa atau siswi  karena mereka sudah tidak mempan saat kita berikan nasihat? 

saat aku mendongeng di anak yatim

Bagaimana dengan mendongeng?Sejauh mana dongeng bisa berpengaruh positif bagi anak? Nah, emak, sista, moms, ternyata dongeng mempunyai pengaruh yang besar apalagi dalam merubah karakter negatif menjadi karakter positif. Misal dari yang tadinya tidak mau bangun pagi menjadi mau bangun pagi. Dari yang melawan sama orang tuanya menjadi baik dan sayang sama orangtua.
 Dongeng dapat menimbulkan karakter positif

Dongeng dalam kamus besar bahasa indonesia dikatakan dongeng adalah  do.ngeng

[n] (1) cerita yg tidak benar-benar terjadi.
Mendongeng adalah bertutur dengan intonasi yang jelas, menceritakan sesuatu yang berkesan, menarik, memiliki nilai dan tujuan yang khusus.

Nah selain itu kegiatan mendongeng sendiri tidak sekedar bersifat hiburan belaka. Melainkan memiliki tujuan. Antara lain:


  • Pengenalan alam sekitar
  • Budi pekerti
  • Mendorong anak berprilaku positif

Eits... selain mendorong anak berprilaku positif dongeng sendiri juga sangat menyenangkan karena didalam dongeng ada pengetahuan sekaligus hiburan baik bagi pendongengnya maupun pendengarnya, selain itu akan mengeratkan hubungan orang tua dan anak (ini jika emaknya sendiri yang ikut memberikan dongeng untuk anaknya).

Mendongeng perlu latihan. Dengan banyak latihan dan memperhatikan alam sekitar dan membaca buku sebagai sarana memperbanyak ilmu. Moms untuk mendongeng ini ternyata banyak manfaatnya lho untuk anak. Salah satunya adalah..

  • Merangsang kekuatan berpikir.


Anak semakin berimajinasi, sehingga bisa merangsang rasa ingin tahu anak. Dongeng berpengaruh pada kekuatan berpikir anak. Anak nantinya dapat membentuk visualisasi.
  • Sebagai media yang efektif
Dongeng merupakan media yang efektif untuk menanamkan nilai dan etika kepada anak. Dapat juga menimbulkan rasa empati. Dapat juga membuat anak menjadi kreatif (http://www.hidayatinur.com/2016/02/membuat-anak-menjadi-kreatif.html)
  • Merangsang kepekaan anak pada bunyi-bunyian.
Saat mendongeng mau tidak mau pendongeng harus menirukan berbagai macam suara. Misalnya ada suara kakek atau nenek atau bahkan anak anak.

  • Menumbuhkan minat baca 
Dongeng dapat merupakan langkah awal untuk menumbuhkan minat baca anak. Setelah tertarik pada berbagai dongrng yang diceritakan anak diharapkan dapat minat pada buku. Diawali dengan minat buku-bukudongeng misalnya. ( baca: juga membuat-anak-suka-membaca)
  • Menumbuhkan rasa humor yang sehat
Humor ternyata sangat bagus untuk kesehatan. Ketika anak-anak tersenyum lalu tertawa bisa menghilangkan stres dan mencegah sedikitnya 70 persen penyakit. Wow bisa dibayangkan ya?

Keberhasilan dongeng ditentukan daya imaginasi pendongengnya tapi juga  keberhasilan mendongeng dapat dilihat dari kemampuan pendongengnya  untuk bercerita secara menarik. dapat menggunakan media boneka misalnya.
contoh dengan mengunakan boneka still learn


Awal mendongeng saya pada tahun 2013 saya mendongeng untuk kelas saya. Saya belajar suara (hihihi) Suara yang saya dapat dari proses belajar belum banyak. Maklum saya pemula. Awalnya saya membawakan dongeng  dengan media boneka. Media ini saya dapati dari anak anak pada waktu itu. Jadilah setiap pagi pada waktu itu ada DONGENG PAGI. Saya ciptakan juga lagunya untuk Dongeng Pagi. Tapi untuk lagunya bukan judulnya Dongeng Pagi. Tapi Rumah Dongeng. 

Awal saya mendongeng saya juga ingin  menjajal ilmu baru hihihi. Pada awalnya tahun 2013 saya mencoba mendongeng di kelas (seperti pada video diatas). Lalu bersama teman-teman KPPC ( Group menulis di sekolah di undang untuk mengikuti workshop mendongeng waktu itu)  Kemudian saya, gurunya ikutan lomba hihihi Alhamdulillah dapat juara 2. Dalam waktu kisaran 20 menit membuat konsep cerita lalu dikembangkan untuk bisa tampil mendongeng juga. Mungkin dari situ juga awal saya tertarik mendongeng.


Didot bersama anak-anak kelas 2


Lama juga saya vakum, lalu lagi-lagi jalan Allah saya diminta mendongeng di daerah rumah saya waktu itu ada acara baksos. Saya mendongeng dengan menggunakan boneka. Pas puasa saya diundang lagi di daerah kampung melayu, salah satu penonton melihat  saya lalu merekomendasikan saya. Wah saya kaget sekaligus senang. Mulailah saya berburu   mencari karakter bonekanya. Saya cari di Pasar Gembrong saya dapat boneka lucu. Kumisnya saya lepas hihihi...
dongeng saat ditempat ngaji


Saat bulan puasa 2 tahun yang lalu saya  diundang seorang teman. Nama teman saya Indah untuk mendongeng di sekolahnya. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan.Pergilah saya  ke SD Negeri dibilangan Tebet diantar suami tercinta( cie... yang mendukung kegiatan saya, trims abi) Saya senang sekali sekaligus grogi. Grogi karena penontonnya lebih banyak. Usia anak SD dengan beberapa karakter. Lucunya saya dipanggil  dengan sebutan ustazah (waduh...saya hanya pendongeng) Kepala sekolahnya saya lupa namanya baik. Begitupula guru-gurunya. Boneka yang saya gunakan si Ayami. Ayami saya pakain jilbab.Jilbabnya lucu deh! Alhamdulillah kegiatannya berjalan baik.
bersama indah

Terus berlanjut dongeng awal tahun Hijriah di sekolah. Saya pakai juga tokoh Ayami. Boneka yang saya dapati dari seorang teman. Ayami dan Didot karakter anak -anak dengan suara cempreng untuk ayami(seperti saya hihihi) Enggak kok saya kalem orangnya (ups). Yang disukai anak-anak adalah boneka  Ayami. Centil, cempreng tapi mengemaskan, 


saat dongeng tahun Baru Hijriah

Lalu saya diundang untuk mendongeng lagi pas puasa untuk anak-anak TPA . Alhamdulillah Allah berikan kelancaran. Saya  senang sekali karena menurut saya itu merupakan proses belajar juga untuk memantapkan diri dan memberanikan diri ini dalam mendongeng. Saya gunakan boneka Ayami dan Didot.
mendongeng di TPA

Terakhir saya diundang pada tanggal 17 kemarin tepatnya bulan Februari 2016. Saya diundang oleh Bu Erika  untuk mengisi anak-anak yatim di daerah rumahnya di Kampung Ambon, Jakarta Timur. Kesempatan emas ini tidak saya sia-siakan lagi. Anak -anak yatim dengan usia SD sampai SMP. Karakter yang ingin saya bangun agar mereka termotivasi dan memiliki semangat dalam kejujuran. Saat mendongeng saya membutuhkan karakter orang tua. Kalau memungkinkan biasanya saya akan mengambil satu penonton menjadi salah satu karakter yang saya inginkan. Bisa orang tua, teman, atau ibunya. Kalau ini saya lakukan agar penonton ikut terlibat dalam dongeng yang saya bawakan.

hai aku Didot


bersama Hani yang selalu memonitor saya
Oiya, saya selalu mengajak Hani saat diundang mendongeng. Selesai mendongeng saya akan bertanya gimana tadi ceritanya seru gak? Hani akan menjawab sesuai keadaan disana. Pernah juga Hani bilang ceritanya kurang menarik Mi, hihihi (untuk yang ini saya ambil masukannya untuk memperbaiki cara mendongeng saya)
mendongeng di tempat Ibu Erika
Mom, Ukhti, Sista, Pendidik, atau guru dalam mendongeng perlu persiapan juga. Biasanya saya melakukan hal sebagai berikut:
  1. Berdoa kepada Allah agar dimudahkan dan diberikan inspirasi dalam mendongeng
  2. Datang awal waktu untuk melihat situasi,
  3. Penjiwaan dalam mendongeng
  4. Penguasaan materi dongeng
  5. Ikhlas dan bersyukur
Terus terang  dalam mendongeng saya masih belajar. Saya belum ahli. Tapi dengan terus belajar dan semangat dalam diri  Insya Allah saya BISA! Jika Emak, Sista, Ukhti merasa belum mampu dan belum percaya diri katakan kepada diri kita bahwa KITA MAMPU DAN BISA dalam mendongeng dan merubah karakter anak-anak menjadi baik. 
Ayo tunggu apalagi. Mulai dari sekarang yuk! Aku Bisa Mendongeng.(Hdy-Love teach and Write)





Minggu, 14 Februari 2016

PILIHAN BUNGA

Namanya Bunga. Wajahnya cantik, tutur katanya sopan. Bunga selalu menjaga dirinya dari pandangan liar laki-laki di desanya.  Usia Bunga sudah berkepala tiga. Mbok begitu takut kalau-kalau Bunga tidak ada jodohnya. Sebenarnya bukan tidak ada laki-laki yang menyukainya tapi sederet laki-laki ingin meminangnya mulai dari yang berada sampai yang biasa-biasa saja. Tapi Bunga pemilih. Ia ingin memilih  menuruti kata hatinya. bukan karena nafsu belaka.Bunga ingin  jika mempunyai suami kelak suaminya bisa menjadi imam yang baik untuk dirinya dan anak-anaknya.
"Terlalu pilih-pilih nanti jadi perawan tua," begitu nyiyiran sebagian orang dikampungnya.

Sebenarnya ketika ditanya seperti apa tipe suami yang dicari Bunga? Bunga hanya menjawab,"yang dengannya semakin bisa mendekatkan dirinya kepada Allah."
"Duh langka kali zaman sekarang laki-laki seperti itu. Mbo'ya yang wajar-wajar saja." ucap  Rini sahabatnya kala itu. "Atau sekalian yang kaya raya, kan gampang mau apa saja tinggal nunjuk," Rini menambahkan.
Bunga tidak menjawab. Bunga hanya takut saja perubahan setelah menikah malah bukan menjadi baik. Bunga tidak ingin seperti kebanyakan orang yang terjadi hanya memuaskan nafsu belaka sedangkan untuk masalah keagamaan semakin hilang. Bukankah semua harus seimbang?" begitu keyakinan Bunga.

Suatu ketika saat Mbok dan Bunga sedang memasak didapur. Mbok bertanya,"Kapan cah ayu mencari pasangan?" tanya si Mbok.
Bunga terdiam. Dimainkannya sudit dan wajan yang ada didapur. Kala itu Bunga sedang memasak ikan jambal cabai hijau yang sangat menggugah selera. Ikan Jambal cabai hijau sangat disuka Ndarul, adiknya.
"Temanmu Rini baru saja dipinang pemuda desa yang kaya raya," Mbok menjelaskan.  "Kamu lebih cantik dari Rini." Mbok memandang lekat wajah anaknya.
Ya, Bunga memang cantik. Parasnya mirip artis. Kalau dilihat sekilas mirip Oky Sang Dewi. Artis terkenal di Indonesia. Bedanya Oky Sang Dewi telah menutup auratnya. Sedangkan Bunga tidak. Tapi bunga tetap menjaga dirinya. Membalut tubuhnya dengan pakaian yang sopan. Ia akan merasa risih jika harus memakai baju ketat atau lebih dikenal dengan yu can see. Hanya segelintir orang yang seperti Bunga dikampungnya.
Satu yang Bunga ingat," Aurat itu harus dijaga. Bagian yang terpentingnya seluruhnya kecuali muka dan telapak tangan," begitu pesan guru ngajinya. Untuk memakai jilbab Bunga belum mau. Mungkin bukan karena belum mau tapi belum dapat hidayah saja. 
Satu waktu Mbok mengingatkan agar Bunga merias wajahnya."Cah ayu...mending dirias wajahmu. Pakai lipen warna merah, pakai pemerah pipi, atau  untuk membuatmu cantik agar banyak laki-laki yang tertarik padamu. Atau kalau tidak  pakai...," Mbok tidak meneruskan. Mbok terlihat lupa.
"Pakai areng Mbok!" Bunga terkekeh. Sambil menutup mulutnya.
"Kamu ini ngaco!" Mbok tertawa.  Masa pakai areng. Kalau diingatkan tentang jodoh, kamu itu ya malah ngajakin bercanda. Yo wis cekarepmu, Nduk!"

Untuk masalah jodoh Bunga memang seperti itu.  Tidak pernah galau ataupun resah. Walau umur nya semakin beranjak naik. Kalaupun galau atau resah hanya sesaat saja. Karena Bunga yakin laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik. Laki-laki yang sholeh untuk perempuan yang sholehah. Paling dirinya menyibukan hatinya untuk lebih dekat lagi pada Gusti Allah. "Membuat hati yang resah akan menjadi tenang," begitu ucapnya.

Hari ini  Rini mengundang Bunga datang ke rumahnya sejak pernikahan sahabatnya itu,  Bunga jarang bertemu Rini. Memasuki rumahnya yang mewah Dan halaman yang luas Bunga sampai berdecak kagum. Semua serba ada. Semua impian Rini yang dulu sudah dia dapatkan. Pembantunya juga ada lima. Bisa dibayangkan rumahnya bak istana..
"Sudah senang sekarang Rin? Sudah punya suami dan rumah bak istana," Bunga membuka percakapan.
Rini tidak menjawab. Seperti ada guratan kekecewaan yang berusaha disembunyikannya. Satu yang Bunga ingat perkataan Rini, "Hati-hati dalam memilih pasangan. Sertakan pula Allah, dalam setiap keputusan yang kamu ambil," begitu kata Rini. "Jangan turuti hawa nafsu, akal sehat diutamakan, minta restu juga kedua orangtuamu jika nanti ada laki-laki yang ingin menikahimu," jawab Rini pelan. Sebenarnya Rini sedang berusaha menahan air mata yang ingin turun dari kelopak matanya. Pertemuan singkat itu bagi Bunga sangat jelas, Rini sepertinya tidak bahagia. "Kekayaan bukanlah segalanya," begitu tutur Rini saat mengakhiri pertemuan dengan Bunga.

Hari ini setelah pulang dari rumah Rini, Kakaknya, Budiarti, memberikan proposal baru. Proposal yang diterimanya  berisi biodata dari seorang laki-laki yang tidak lain adik dari teman kakaknya.Seorang sarjana muda, yang baru lulus  dari  universitas di Surabaya. "Dilihat dulu saja proposalnya. Katanya kamu gak mau pacar-pacaran. Lha ini ada yang mau seperti ini, sudah kuliah pula coba dipertimbangkan." Budiarti, kakaknya menyodorkan proposal bersampul cokelat ke arahnya.


Hatinya tergelitik untuk membuka proposal itu. Sebuah proposal yang sangat sederhana, didalamnya tertulis biodata singkat, serta didalamnya ada tujuan dan harapan berumahtangga. Bunga membaca dengan seksama. Matanya perlahan-lahan menurun membaca sebuah keterangan,
"Saya  Hari Prasetyo, seorang laki-laki yang Insyaallah siap bertanggung jawab dengan semua kekurangan yang saya miliki, dan saya ingin menjadikan kelak keluarga kecil saya nanti bahagia dunia dan akhirat, namun kekurangan saya adalah saya memiliki kekurangan kaki saya pernah kecelakaan dan saya memakai tongkat dalam segala aktifitas."


Deg! Bunga terdiam. Sanggupkah menerima sebuah kekurangan menjadi bagian dari dirinya. Lama Bunga termenung. Keputusan harus segera diambil. Bersamaan dengan proposal yang masuk, Budenya memberikan juga proposal dengan pria satu kampung dengannya, memiliki kemapanan hidup dan bunga dihadapkan dalam dua pilihan.
" Sholat istikharah dulu, jangan condongkan hatimu. Biarlah Allah yang akan menuntunmu," 'saran Budiarti kakaknya.

Dua pekan Bunga sholat istigharah, berharap inilah keputusan terbaik Bunga.  Mbok terlihat kecewa. Begitu juga dengan Bude. "Jangan dilihat dari fisiknya. Jika Bunga sudah mantap dengan keputusannya orang tua hanya mendo'akan saja," ucap Bapak pada si Mbok.

Hari ini Bunga terlihat bahagia. Rona kebahagiannya terpancar jelas di wajahnya. Jilbab yang dipakainya tampak serasi. Ya, Bunga memantapkan dirinya kini memakai jilbab. Semua yang hadir turut memberikan do'a dan restu. Pernikahannya dengan Heri Prasetyo pun dilaksanakan secara sederhana. Satu yang Bunga yakini dan selalu berdo'a agar semoga pernikahannya bersama Hari Prasetyo akan semakin membawanya menapaki hidup ini dengan sempurna. Saling mengingatkan dan mengisi kekurangan dan kelebihan pasangannya masing-masing. Keduanya terlihat bahagia. 

(Hdy-love teach and Write)






Selasa, 09 Februari 2016

SAAT HUJAN TURUN


                                                 
            Hujan belum juga reda. Aku terpaksa berdiam di sudut toko ini. Toko yang menurutku lumayan sempit karena aku juga terhimpit diantara ibu-ibu yang sengaja berteduh dari derasnya hujan yang sudah mengguyur sejak pagi. Sebelah kananku seorang ibu muda yang mengengam anaknya. Usia anakya sepertinya sebaya dengan usia anakku. Kira-kira 8 tahun. Ya, seusia Aris anakku. Sebelah kiriku ada seorang ibu yang membawa belanjaan banyak sekali. Menurut perkiraanku, ibu ini seorang pedagan warteg yang sengaja belanja pagi-pagi sekali di pasar ini.
            Pandanganku kualihkan ke beberapa sudut pasar. Banyak yang sengaja berteduh dari derasnya hujan. Sesekali kupandangi kresek kemudian  kueratkan kembali gengaman kresek belanjaanku.  Aku takut terjatuh bahkan rusak, karena didalamnya ada makanan kesukaan Aris, anakku kue cubit serta ada keong kecil lengkap dengan rumah-rumahannya. Aku bahagia sekali dan sudah terbayang  wajah lucunya dengan pipi gembulnya yang gembira menerima kue cubit dan keong ini yang  memang dengan terpaksa aku turuti.
            “Jangan lupa, ya, Bu! Keong kecil dan rumah-rumahannya dicari,” Aris mengelendot manja saat aku hendak ke pasar. “O,iya kue cubitnya juga.”
            “Jangan sekarang , sayang! Uangnya hanya cukup untuk beli sayur dan lauk saja,” ucapku kala itu.
            “Ya…, Ibu!” Aris menekuk wajahnya. Ia tidak bersemangat. Pipi gembulnya sekan ikut bersedih.
            Untuk wajah seperti ini aku tidak tega. Terpaksa aku mencongkel celengan sekedar membahagiakannya.
            “Baiklah tapi dengan syarat Aris mandi lalu makan pakai telor ceplok yang sudah ibu siapkan,ok!”
            “Hore!! Asyikk! Ok, Bu!” teriak Aris gembira. Atis tersenyum lebar.
            Lamunanku seakan terhenti saat seorang ibu mengerutu,” Huh! Kapan berhentinya. Hujan membuat semuanya jadi kacau.” umpatnya.
            Aku hanya tersenyum kecut, bukan salah hujannya. Hujan adalah rahmat dari Sang Maha Pencipta. Bukankah dengan hujan tanah yang gersang akan menjadi subur kembali. Dan makhluk hidup yang ada di bumi dapat mengambil manfaatnya dari keberadaan hujan ini.
            “Kalau hujannya tidak berhenti juga, kapan bisa masak buat anak, nih!” gerutu ibu  lainnya. Ibu itu tetap mengerutu. Aku sengaja tak memedulikannya. Kupandangi langit yang masih tampak muram tetes airnya belum juga berhenti. Bahkan semakin banyak. Aku tersenyum gelisah.
            Seorang ibu yang berada tak jauh di tempatku berdiri tampak  bersiap-siap Ia terpaksa menutup kepala anaknya dengan alas seadanya kemudian pergi meninggalkan tempat ini.
            “Tak tahu diri orang itu, kasihan kan anaknya kalau sakit gimana?” gerutu sebelahku.
            “Ya, mungkin ibu itu ada keperluan yang sangat mendesak!” jawabku. “Tidak perlu seperti itu dalam menilai orang, Bu! Lagi pula kepala anaknya sudah ditutupi, kok!” tambahku.
            Ibu itu terdiam.
            Hujan belum juga reda. Dan aku semakin merapat ke dalam. Desakan beberapa orang yang baru datang menyebabkan aku harus mengeser badanku ini.
            “Hujan seperti ini rawan kecelakaan.” ucap seorang laki-laki yang berada didepanku.
            “Iya, betul, Pak! Bulan lalu saja ada seorang pedagang buah mengalami kecelakaan,” jawab  ibu yang membawa belanjaan banyak.
            “Ditabrak apa?” tanya yang lainnya.
            “Kalau tidak salah ada mobil yang remnya blong. Pada saat pedagang buah itu nyebrang pengendara mobil tidak bisa menghindar. Dan terjadilah benturan hebat. Dengar kabar pengendara mobil itu supirnya juga mengantuk!” ucapnya dengan nada kesal.
            “Kemudian apa yang terjadi?” tanya seorang yang terlihat ingin tahu.
            “Yang terjadi pedagang buah itu tewas seketika. Kasihan, Apalagi pedagang buah itu meningalkan istri  yang mengandung anak keduanya.
            “Memang jaman sekarang seperti ini sudah semakin semeraut.  Baik pengendara mobil dan motor tidak taat peraturan. Yang penting cepat sampai tanpa melihat keselamatan orang lain!” jawabnya geram.
            “Harusnya kalau ngantuk, ya, istirahat dulu lah!” ucap laki-laki itu geram.
            “Rumah pedagan buah itu juga tidak terlalu jauh. Tepat  berada di gang itu,”tunjuk laki-laki yang berbadan tegap
            Deg!Jantungku serasa copot. Sebenarnya aku mengira yang mereka ceritakan adalah pedagan lain. Tapi ternyata tidak! Yang mereka ceritakan  sebenarnya adalah suamiku. Tak terasa butir-butir turun dari mataku.
            “Lho, mengapa ibu menangis?” tanya seoran ibu yang berdiri di sebelah kananku.
            “ Hm..hm…,”Aku tergagap. Buru-buru kuseka air mataku.
            “Terlalu menghayati ceritanya, ya Bu?” tanya yang lainnya.
            Aku hanya mengangguk pelan.
            Suamiku meninggal baru sebulan yang lalu. Namanya Mardi. Sosok laki-laki yang sangat bertanggung jawab. Seorang yang ulet dalam bekerja. Mencari nafkah asal halal pasti dijalaninya. Pernah tetangga meminta dibenarkan saklar listriknya yang koslet, suamiku Mardi bisa melakukannya. Membetulkan genteng milik tetangga pun dilakukannya. Ringan tangan dalam membantu siapa saja. Walau untuk itu terkadang tidak dibayar. “Hidup itu tidak selalu uang. Kadang pekerjaan  sekecil apapun, kalau itu bisa membantu orang lain pasti akan mendapat pahala.” begitu katanya penuh keyakinan.
            Beberapa tetangga  juga bertanya apa ada hal aneh sebelum kepergiannya? Yang aku ingat suamiku itu semakin taat beribadah. Mengajak Aris anakku untuk sholat subhu di mushola. Memasak nasi goreng untukku yang tidak pernah dilakukannya. Dan aku lihat wajah suamiku,  Mardi terlihat lebih putih dari biasa.
            Sehari sebelum kepergiannya ada hal aneh yang dikatakannya. “ Besok di rumah juga banyak orang. Saudara-saudara pada datang.”
            Aku tidak terlalu serius menangapinya. “Guyon nih , Bapak!” jawabku sekenanya.
            “Nah, itu tanda-tanda kepergiaanya, Bu!” jawab tetanggaku kala itu
            Aku hanya tersenyum saja. Bagiku kalau memang sudah waktunya untuk kembali kepada penciptaNya pasti juga akan terjadi. Dan aku sudah ikhlas akan kepergian Mardi suamiku.
            Lamunanku terhenti saat seorang ibu menyenggol bahuku. Kupandangi langit kembali yang terlihat masih mengeluarkan air hujan.
            “Mengapa hujannya belum berhenti juga. Kalau seperti ini terus bagaimana bisa sampai di rumah,” gumamku.
            Beberapa ibu sudah beranjak dari tempat ini. Mereka terpaksa menerobos lebatnya hujan. Aku pun bersiap-siap. Kubisikan pelan dan kuraba cabang bayiku yang berada dalam kandungan,” kita pela-pelan, ya, sayang, kasihan kakakmu menunggu lama.”
            Aku ambil sekedarnya sebagai alas dikepalaku. Saat aku bersiap berjalan, seorang ibu pemilik warung  yang tak lain adalah tetanggaku yang menyodorkan  payungnya,“Pakailah ini!Kasihan bayi yang ada dalam perutmu. Kamu harus sehat, Lastri!” ucapnya.
            Aku mengambil payung pinjamannya. “Terimakasih, Bu!” jawabku.
            Mbok Inem yang biasa aku panggil mengangguk.
            Perlahan aku pun meninggalkan emperan toko itu. Entahlah apa mungkin aku salah dengar, mereka seperti mengucapkan, “Oh...,” secara berbarengan saat Mbok Inem menceritakan siapa aku sebenarnya. Ya, aku adalah istri pedagang buah yang mereka ceritakan tadi. Tapi aku tidak peduli. Aku ingin cepat sampai di rumah. Bertemu dengan Aris, anakku.
            Langkahku semakin ku percepat.  Sebagian orang mengingatkan agar aku berhati-hati,       “Jalannya licin, Bu berhati-hatilah!”
            Aku hanya mengangguk.
            Deru motor dan mobil saling sahut-sahutan. Mereka telihat tidak sabar. Entah! Apakah kehidupan jalan sudah semeraut seperti ini. Aku tidak tahu!
            Kupercepat langkah kakiku. Kuterobos lampu merah. Payung yang aku pakai terlihat berkibar-kibar terkena hembusan angin dan derasnya hujan. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan Aris, anakku. Kugenggam semakin erat plastik kresek ini. Didalamnya masih ada kue cubit dan keong beserta rumah-rumahan. Aku memandang dengan penuh bahagia. Semua permintaanya sudah aku dapatkan.
            Pas tiba di pertigaan sesudah lampu merah aku melihat ke kiri dan ke kanan. Segera aku pun menyeberang. Akan tetapi terdengar samar-samar teriakan orang. AWAS!! MOTOR BU!!
            BRUK!! Tubuhku terpental. Kresek hitam masih kuat berada digenggamanku. Sayup-sayup orang semakin banyak berdatangan. Yang kuingat “Ya Allah…Lastriiiii!” suara Mbok Darmi berteriak histeris.
            Motor yang tadi menambrakku sudah kabur.
            “Mereka yang salah! Sudah tahu lampu merah! Masih diterobos juga! Sayup-sayup masih kudengar seorang ibu berteriak dengan nada marah.
            Beberapa menit kemudian aku merasakan derasnya darah yang mengucur dari kepalaku. Pandanganku perlahan-lahan kabur. Nafaskupun tersengal-sengal seperti ada   batu  besar yang menghimpit dadaku. Yang aku ingat  kresek hitam masih ada digenggamaku.(Hdy- love teach and write)


           



NOTE: Pernah diikutsertakan dalam kelas hukum.

            

Senin, 08 Februari 2016

CARA MELINDUNGI ANAK DARI PREDATOR SEKS

Assalamu’alaikum para bunda, ukhti, ibu, mama, siapapun yang mencintai anak-anak bahkan guru Tk sampai SMA atau siapapun yang sangat concern terhadap pendidikan. 

Kali ini Rumah Penuh Inspirasi akan berbagi cerita mengenai melindungi anak dari “orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang jail, yang menyimpang.” Dalam hal secara tidak langsung menyakiti atau bahkan melakukan pelecehan terhadap anak-anak kita. ( pembahasannya agak serius nih hihihih)




Menurut Dwi Estinigsih,M.Psi, Psikolog  bahwa  pentingnya pendidikan seks bagi anak, demi melindungi anak dari predator seks.  

Perlu digaris bawahi untuk mengajarkan pendidikan seks pada anak yang perlu diajarkan adalah pemahaman mendasar mengenai fiqih laki-laki  dan fiqih perempuan yang dibahas tentang mengajarkan akhlak menutup aurat , mengapa laki-laki dan perempuan tidurnya dipisah, dan lain sebagainya.

Bunda, ukhty, ibu, mama, siapapun yang mencintai anak-anak bahkan guru Tk sampai SMA atau siapapun yang sangat concern terhadap pendidikan basis pertama yang harus kita lakukan adalah melakukan penguatan terhadap norma agama sejak dini, selain itu diperlukan juga penanaman kemandirian pada anak agar bisa menjaga dirinya sendiri.

"Basis norma agama perlu sejak dini diajarkan"
Penanaman ibadah harus sejak dini. Seperti :
  • Mengajarkan  sholat 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Al-Bukhari)


Atau dalam hadits lain dikatakan Dari Amr bin Syuaib, dari bapaknya, dari kakeknya, dia berkata, "Rasulllah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ (رواه أبو داود ، رقم  495،  وصححه الألباني في " صحيح أبي داود)
"Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah jika mereka telah berusia sepuluh tahun, serta pisahkan mereka di tempat tidur mereka."( HR. Abu Dawud, no.495 dan dishohehkan oleh Al-Alban di Shoheh Abi Dawud.)
  • Mengajarkan  tentang kebiasaan menutup aurat sejak dini. Penamanam menutup aurat sejak dini sangat dibutuhkan dimana keadaan yang menjadikan orang berprilaku tidak baik salah satunya pakaian yang dikenakan. Oleh karena itu walaupun anak belum baliq yang harus kita lakukan adalah memberikan pemahaman batasan aurat untuk laki-laki dari pusar sampai lutut, Sedangkan batasan aurat anak perempuan adalah seluruhnya kecuali muka dan telapak tangan.
"Kemandirian perlu diajarkan sejak kecil seperti memakai baju sendiri"
Jadi apa yang harus dilakukan orang tua?
  • Jalin kedekatan dan komunikasi yang baik.

Ajak anak berdialog tentang kekerasan  seksual yang mengancam lingkungan. Seperti tidak menerima apapun dari orang yang tidak dikenal. Tidak mudah tergiur iming-iming orang asing.

  •  Mengajarkan mana yang boleh dan yang tidak

 Caranya adalah:
1. Ajarkan pada anak tubuhnya yang tidak boleh disentuh terutama bagian mulut, dada, bokong, serta bagian bawah sekitar paha. Kika terjadi ajarkan kata “Tidak!”

2. Ajarkan untuk tidak membuka aurat saat ada yang menyuruhnya dan katakana “TIDAK   Bila ada yang ingin menunjukan bagian pribadinya ajarkan untuk melapor pada orang dewasa.

 3. Mengajarkan anak mandiri
Sejak dini diajarkan untuk memakai baju sendiri sejak usia 3 tahun. Dan ketika memandikan usahakan orang tuanya saja yang memandikan dan memakaikan bajunya.

 4. Mengajari anak mana cerita yang yang baik yang harus dirahasiakan dan mana yang tidak.
Predator atau orang yang jail menekankan agar anak takut dan tidak bercerita pada orang dewasa. Jelaskan pada anak mana cerita yang harus dirahasiakan dan mana yang tidak.

5. Melihat siapa teman anak kita
Sebagai orang tua kita harus mengetahui siapa saja teman anak kita, adakah potensi lingkungan yang mengarah kesana? Usahakan untuk menjauhkan anak kita dari lingkungan yang berpotensi kearah tidak baik. Untuk anak yang sudah beranjak remaja  yang harus dilakukan adalah memantau aktivitas media sosialnya.

Lalu apa ciri-cirinya psikologis jika anak mengalami kekerasan seksual?
1.       Anak malas atau takut pergi ke sekolah
2.       Mengalami ganguan tidur.
3.       Sensitif dan gampang marah
4.       Memiliki rasa takut pada tempat atau pada seseorang

Sedangkan jika dilihat dari segi psikis akan tampak sekali:
1.       Sulit duduk maupun berjalan
2.       Nyeri saat buang air kecil
3.       Gatal-gatal dan memar disekitar alat kelamin
4.       Pakaiannya bernoda, atau robek.

Semoga anak-anak kita, kita sendiri terlindung dari hal-hal
yang tidak baik. Do’a  yang kuat, penanaman aqidah dan
usaha yang kita lakukan agar Allah memberikan perlindungan
Nya kepada kita dan anak-anak kita. Aamiin.
(Hdy-love teach and write)


Note : sumber gambar google



Kamis, 04 Februari 2016

MEMBUAT ANAK MENJADI KREATIF

Assalamu'alaikum ibu- ibu kreatif? Semoga senantiasa mendapatkan keberkahan usia dan waktu.Aamiin. Pernah dengar  seorang ibu berbicara kepada ibu lainnya, "Jeung anak saya mah tidak kreatif. Kalau anak jeung sepertinya kreatif. Kalau anak saya  malas." 
Mungkin ini hanya kasus kecil, Masih ada kasus yang lainnya. Tapi sekarang saya akan membahas tentang kreativitas. Bagi saya anak perlu juga kreatif. Kreatif bisa membuat anak dapat menyelesaikan masalahnya. Mulailah dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu.
Pelabelan ibu terhadap anak sendiri yang membuat anak kita tidak kreatif." Buang-buang waktu. Gak ada gunanya kamu buat itu. Jangan, Nak nanti kotor!" Jangan, Nak! Nanti lengket tanganmu kalau main lem seperti itu," Nah mungkin kita sebagai orang tuanya yang secara tidak langsung membuat anak tidak kreatif.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kreativitas 1. adalah kemampuan untuk mencipta; daya cipta; 2.perihal berkreasi; kekreatifan.
Adapun diantara ciri -ciri anak yang kreatif  sbb:
  1. Mampu berkonsentrasi
  2. Memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi
  3. Memiliki apresiasi terhadap sesuatu yang bernilai estetik (indah)
  4. Memiliki ketertarikan terhadap sesuatu yang kompleks dan misterius
  5. Memiliki rasa ingin tahu
  6. Senang  jika menemukan sesuatu (invensi)
  7. Memiliki keinginan untuk selalu berbagi ide
  8. Selalu berusaha memperbaiki kekacauan atau ketidakteraturan
  9. Memiliki dasar pengetahuan yang luas
  10. Memiliki sifat fleksibel
  11. Mempunyai ingatan yang baik, dan sangat memperhatikan detil
  12. Memiliki energi tinggi dan selalu antusias
  13. Suka berimajinasi
  14. Mandiri
  15. Mempunyai kendali evaluasi diri yang baik
  16. Suka menciptakan sesuatu
  17. Tidak mempunyai toleransi terhadap kebosanan
  18. Membutuhkan iklim yang mendukung
  19. Terbuka terhadap pengalaman dan hal-hal baru
  20. Suka bermain-main
  21. Berani mengambil resiko
  22. Memiliki rasa percaya diri yang besar
Apakah anak kita memiliki beberapa ciri seperti yang disebutkan diatas? Kalau tidak ? marilah kita membuat anak kita menjadi kreatif. Bagaimana membentuk anak kreatif??
Nah, Bunda..tuk membentuk anak menjadi kreatif diantaranya yang dapat kita lakukan adalah:
1. Memilih pola asuh yang tepat
memilih disini adalah orang tua tidak terlalu mengontrol ekspresi kreativitasnya. Tidak dibarengi dengan kritikan dan lain-lain. Biarkan anak bereksplorasi kita cukup memantaunya saja.
2.Hindari kritikan yang mematikan kreatifitasnya.
Misal anak sedang mengambar sesuatu lalu mewarnai yang menurut kita tidak sesuai. Jangan sampai kita bilang gak bangus warnanya harusnya yang ini. Lebih baik ganti dengan pertanyaan. "coba lihat kelangit awannya warna apa ya? Kalau warna merah menurut kamu gimana?" Biarkan anak menemukan jawabannya sendiri.
3. Menghargai karya anak
Satu hal bagi saya sulit untuk mengungkapkannya atau mungkin bunda juga yaitu mengucapkan kata," wah bagus! ". "Wah Hebat!" Ih keren gambarnya!" Padahal kata-kata seperti itulah yang akan membuat anak menjadi lebih percaya diri terhadap hasil yang telah dibuatnya.
4. Berikan hadiah
Jika anak di sekolah mendapatkan nilai yang bagus atau tidak dalam hal mengembangkan kreatifitas anak berikanlah hadiah tidak mahal kok bisa memberinya penghapus, pensil atau alat tulis lainnya. Bilang juga ini karena kakak hebat bisa membuat prakarya yang keren, jadi bunda kasih ini!
Tidak susah bukan? 
Dewasa ini perlu juga kita membentuk anak menjadi anak-anak yang kreatif. Salah satu yang bisa kita lakukan adalah diantaranya membuat gelang  Ini juga mengembangkan kreatifitas anak. 

karyaku
Bahan yang dibutuhkan cukup sederhana untuk membuat gelang. Yaitu:
1. tali khusus gelang warna putih
2. gunting
3. manik manik aneka bentuk
Cara membuatnya adalah sebagai berikut:
1. Ukur benang kepergelangan tangan jangan terlalu rekat. Usahakan benang disisakan 10 centi untuk mengingatkan agar mudah
ukur tanganku dengan tali gelang
masukan manik maniknya
3. Jika sudah selesai memasukan manik-maniknya, langkah selanjutnya adalah mengikat gelang tersebut agar tidak lepas.
diikat ya...supaya tidak terlepas hihihi
4. Tralala jadi deh gelangnya. Mudah bukan?


Kreativitas sangat mudah kok asal kita sebagai orangtuanya mau berakit rakit kehulu istilahnya. Mencari, mengadopsi, dan lakukanlah atau kerjakanlah. Maka hasilnya semoga anak kita akan menjadi anak yang kreativ yang bukan hanya bisa membeli tapi bisa membuatnya. Asyik kan?
(Hdy- love teach and write)