Minggu, 14 Februari 2016

PILIHAN BUNGA

Namanya Bunga. Wajahnya cantik, tutur katanya sopan. Bunga selalu menjaga dirinya dari pandangan liar laki-laki di desanya.  Usia Bunga sudah berkepala tiga. Mbok begitu takut kalau-kalau Bunga tidak ada jodohnya. Sebenarnya bukan tidak ada laki-laki yang menyukainya tapi sederet laki-laki ingin meminangnya mulai dari yang berada sampai yang biasa-biasa saja. Tapi Bunga pemilih. Ia ingin memilih  menuruti kata hatinya. bukan karena nafsu belaka.Bunga ingin  jika mempunyai suami kelak suaminya bisa menjadi imam yang baik untuk dirinya dan anak-anaknya.
"Terlalu pilih-pilih nanti jadi perawan tua," begitu nyiyiran sebagian orang dikampungnya.

Sebenarnya ketika ditanya seperti apa tipe suami yang dicari Bunga? Bunga hanya menjawab,"yang dengannya semakin bisa mendekatkan dirinya kepada Allah."
"Duh langka kali zaman sekarang laki-laki seperti itu. Mbo'ya yang wajar-wajar saja." ucap  Rini sahabatnya kala itu. "Atau sekalian yang kaya raya, kan gampang mau apa saja tinggal nunjuk," Rini menambahkan.
Bunga tidak menjawab. Bunga hanya takut saja perubahan setelah menikah malah bukan menjadi baik. Bunga tidak ingin seperti kebanyakan orang yang terjadi hanya memuaskan nafsu belaka sedangkan untuk masalah keagamaan semakin hilang. Bukankah semua harus seimbang?" begitu keyakinan Bunga.

Suatu ketika saat Mbok dan Bunga sedang memasak didapur. Mbok bertanya,"Kapan cah ayu mencari pasangan?" tanya si Mbok.
Bunga terdiam. Dimainkannya sudit dan wajan yang ada didapur. Kala itu Bunga sedang memasak ikan jambal cabai hijau yang sangat menggugah selera. Ikan Jambal cabai hijau sangat disuka Ndarul, adiknya.
"Temanmu Rini baru saja dipinang pemuda desa yang kaya raya," Mbok menjelaskan.  "Kamu lebih cantik dari Rini." Mbok memandang lekat wajah anaknya.
Ya, Bunga memang cantik. Parasnya mirip artis. Kalau dilihat sekilas mirip Oky Sang Dewi. Artis terkenal di Indonesia. Bedanya Oky Sang Dewi telah menutup auratnya. Sedangkan Bunga tidak. Tapi bunga tetap menjaga dirinya. Membalut tubuhnya dengan pakaian yang sopan. Ia akan merasa risih jika harus memakai baju ketat atau lebih dikenal dengan yu can see. Hanya segelintir orang yang seperti Bunga dikampungnya.
Satu yang Bunga ingat," Aurat itu harus dijaga. Bagian yang terpentingnya seluruhnya kecuali muka dan telapak tangan," begitu pesan guru ngajinya. Untuk memakai jilbab Bunga belum mau. Mungkin bukan karena belum mau tapi belum dapat hidayah saja. 
Satu waktu Mbok mengingatkan agar Bunga merias wajahnya."Cah ayu...mending dirias wajahmu. Pakai lipen warna merah, pakai pemerah pipi, atau  untuk membuatmu cantik agar banyak laki-laki yang tertarik padamu. Atau kalau tidak  pakai...," Mbok tidak meneruskan. Mbok terlihat lupa.
"Pakai areng Mbok!" Bunga terkekeh. Sambil menutup mulutnya.
"Kamu ini ngaco!" Mbok tertawa.  Masa pakai areng. Kalau diingatkan tentang jodoh, kamu itu ya malah ngajakin bercanda. Yo wis cekarepmu, Nduk!"

Untuk masalah jodoh Bunga memang seperti itu.  Tidak pernah galau ataupun resah. Walau umur nya semakin beranjak naik. Kalaupun galau atau resah hanya sesaat saja. Karena Bunga yakin laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik. Laki-laki yang sholeh untuk perempuan yang sholehah. Paling dirinya menyibukan hatinya untuk lebih dekat lagi pada Gusti Allah. "Membuat hati yang resah akan menjadi tenang," begitu ucapnya.

Hari ini  Rini mengundang Bunga datang ke rumahnya sejak pernikahan sahabatnya itu,  Bunga jarang bertemu Rini. Memasuki rumahnya yang mewah Dan halaman yang luas Bunga sampai berdecak kagum. Semua serba ada. Semua impian Rini yang dulu sudah dia dapatkan. Pembantunya juga ada lima. Bisa dibayangkan rumahnya bak istana..
"Sudah senang sekarang Rin? Sudah punya suami dan rumah bak istana," Bunga membuka percakapan.
Rini tidak menjawab. Seperti ada guratan kekecewaan yang berusaha disembunyikannya. Satu yang Bunga ingat perkataan Rini, "Hati-hati dalam memilih pasangan. Sertakan pula Allah, dalam setiap keputusan yang kamu ambil," begitu kata Rini. "Jangan turuti hawa nafsu, akal sehat diutamakan, minta restu juga kedua orangtuamu jika nanti ada laki-laki yang ingin menikahimu," jawab Rini pelan. Sebenarnya Rini sedang berusaha menahan air mata yang ingin turun dari kelopak matanya. Pertemuan singkat itu bagi Bunga sangat jelas, Rini sepertinya tidak bahagia. "Kekayaan bukanlah segalanya," begitu tutur Rini saat mengakhiri pertemuan dengan Bunga.

Hari ini setelah pulang dari rumah Rini, Kakaknya, Budiarti, memberikan proposal baru. Proposal yang diterimanya  berisi biodata dari seorang laki-laki yang tidak lain adik dari teman kakaknya.Seorang sarjana muda, yang baru lulus  dari  universitas di Surabaya. "Dilihat dulu saja proposalnya. Katanya kamu gak mau pacar-pacaran. Lha ini ada yang mau seperti ini, sudah kuliah pula coba dipertimbangkan." Budiarti, kakaknya menyodorkan proposal bersampul cokelat ke arahnya.


Hatinya tergelitik untuk membuka proposal itu. Sebuah proposal yang sangat sederhana, didalamnya tertulis biodata singkat, serta didalamnya ada tujuan dan harapan berumahtangga. Bunga membaca dengan seksama. Matanya perlahan-lahan menurun membaca sebuah keterangan,
"Saya  Hari Prasetyo, seorang laki-laki yang Insyaallah siap bertanggung jawab dengan semua kekurangan yang saya miliki, dan saya ingin menjadikan kelak keluarga kecil saya nanti bahagia dunia dan akhirat, namun kekurangan saya adalah saya memiliki kekurangan kaki saya pernah kecelakaan dan saya memakai tongkat dalam segala aktifitas."


Deg! Bunga terdiam. Sanggupkah menerima sebuah kekurangan menjadi bagian dari dirinya. Lama Bunga termenung. Keputusan harus segera diambil. Bersamaan dengan proposal yang masuk, Budenya memberikan juga proposal dengan pria satu kampung dengannya, memiliki kemapanan hidup dan bunga dihadapkan dalam dua pilihan.
" Sholat istikharah dulu, jangan condongkan hatimu. Biarlah Allah yang akan menuntunmu," 'saran Budiarti kakaknya.

Dua pekan Bunga sholat istigharah, berharap inilah keputusan terbaik Bunga.  Mbok terlihat kecewa. Begitu juga dengan Bude. "Jangan dilihat dari fisiknya. Jika Bunga sudah mantap dengan keputusannya orang tua hanya mendo'akan saja," ucap Bapak pada si Mbok.

Hari ini Bunga terlihat bahagia. Rona kebahagiannya terpancar jelas di wajahnya. Jilbab yang dipakainya tampak serasi. Ya, Bunga memantapkan dirinya kini memakai jilbab. Semua yang hadir turut memberikan do'a dan restu. Pernikahannya dengan Heri Prasetyo pun dilaksanakan secara sederhana. Satu yang Bunga yakini dan selalu berdo'a agar semoga pernikahannya bersama Hari Prasetyo akan semakin membawanya menapaki hidup ini dengan sempurna. Saling mengingatkan dan mengisi kekurangan dan kelebihan pasangannya masing-masing. Keduanya terlihat bahagia. 

(Hdy-love teach and Write)