Selasa, 09 Februari 2016

SAAT HUJAN TURUN


                                                 
            Hujan belum juga reda. Aku terpaksa berdiam di sudut toko ini. Toko yang menurutku lumayan sempit karena aku juga terhimpit diantara ibu-ibu yang sengaja berteduh dari derasnya hujan yang sudah mengguyur sejak pagi. Sebelah kananku seorang ibu muda yang mengengam anaknya. Usia anakya sepertinya sebaya dengan usia anakku. Kira-kira 8 tahun. Ya, seusia Aris anakku. Sebelah kiriku ada seorang ibu yang membawa belanjaan banyak sekali. Menurut perkiraanku, ibu ini seorang pedagan warteg yang sengaja belanja pagi-pagi sekali di pasar ini.
            Pandanganku kualihkan ke beberapa sudut pasar. Banyak yang sengaja berteduh dari derasnya hujan. Sesekali kupandangi kresek kemudian  kueratkan kembali gengaman kresek belanjaanku.  Aku takut terjatuh bahkan rusak, karena didalamnya ada makanan kesukaan Aris, anakku kue cubit serta ada keong kecil lengkap dengan rumah-rumahannya. Aku bahagia sekali dan sudah terbayang  wajah lucunya dengan pipi gembulnya yang gembira menerima kue cubit dan keong ini yang  memang dengan terpaksa aku turuti.
            “Jangan lupa, ya, Bu! Keong kecil dan rumah-rumahannya dicari,” Aris mengelendot manja saat aku hendak ke pasar. “O,iya kue cubitnya juga.”
            “Jangan sekarang , sayang! Uangnya hanya cukup untuk beli sayur dan lauk saja,” ucapku kala itu.
            “Ya…, Ibu!” Aris menekuk wajahnya. Ia tidak bersemangat. Pipi gembulnya sekan ikut bersedih.
            Untuk wajah seperti ini aku tidak tega. Terpaksa aku mencongkel celengan sekedar membahagiakannya.
            “Baiklah tapi dengan syarat Aris mandi lalu makan pakai telor ceplok yang sudah ibu siapkan,ok!”
            “Hore!! Asyikk! Ok, Bu!” teriak Aris gembira. Atis tersenyum lebar.
            Lamunanku seakan terhenti saat seorang ibu mengerutu,” Huh! Kapan berhentinya. Hujan membuat semuanya jadi kacau.” umpatnya.
            Aku hanya tersenyum kecut, bukan salah hujannya. Hujan adalah rahmat dari Sang Maha Pencipta. Bukankah dengan hujan tanah yang gersang akan menjadi subur kembali. Dan makhluk hidup yang ada di bumi dapat mengambil manfaatnya dari keberadaan hujan ini.
            “Kalau hujannya tidak berhenti juga, kapan bisa masak buat anak, nih!” gerutu ibu  lainnya. Ibu itu tetap mengerutu. Aku sengaja tak memedulikannya. Kupandangi langit yang masih tampak muram tetes airnya belum juga berhenti. Bahkan semakin banyak. Aku tersenyum gelisah.
            Seorang ibu yang berada tak jauh di tempatku berdiri tampak  bersiap-siap Ia terpaksa menutup kepala anaknya dengan alas seadanya kemudian pergi meninggalkan tempat ini.
            “Tak tahu diri orang itu, kasihan kan anaknya kalau sakit gimana?” gerutu sebelahku.
            “Ya, mungkin ibu itu ada keperluan yang sangat mendesak!” jawabku. “Tidak perlu seperti itu dalam menilai orang, Bu! Lagi pula kepala anaknya sudah ditutupi, kok!” tambahku.
            Ibu itu terdiam.
            Hujan belum juga reda. Dan aku semakin merapat ke dalam. Desakan beberapa orang yang baru datang menyebabkan aku harus mengeser badanku ini.
            “Hujan seperti ini rawan kecelakaan.” ucap seorang laki-laki yang berada didepanku.
            “Iya, betul, Pak! Bulan lalu saja ada seorang pedagang buah mengalami kecelakaan,” jawab  ibu yang membawa belanjaan banyak.
            “Ditabrak apa?” tanya yang lainnya.
            “Kalau tidak salah ada mobil yang remnya blong. Pada saat pedagang buah itu nyebrang pengendara mobil tidak bisa menghindar. Dan terjadilah benturan hebat. Dengar kabar pengendara mobil itu supirnya juga mengantuk!” ucapnya dengan nada kesal.
            “Kemudian apa yang terjadi?” tanya seorang yang terlihat ingin tahu.
            “Yang terjadi pedagang buah itu tewas seketika. Kasihan, Apalagi pedagang buah itu meningalkan istri  yang mengandung anak keduanya.
            “Memang jaman sekarang seperti ini sudah semakin semeraut.  Baik pengendara mobil dan motor tidak taat peraturan. Yang penting cepat sampai tanpa melihat keselamatan orang lain!” jawabnya geram.
            “Harusnya kalau ngantuk, ya, istirahat dulu lah!” ucap laki-laki itu geram.
            “Rumah pedagan buah itu juga tidak terlalu jauh. Tepat  berada di gang itu,”tunjuk laki-laki yang berbadan tegap
            Deg!Jantungku serasa copot. Sebenarnya aku mengira yang mereka ceritakan adalah pedagan lain. Tapi ternyata tidak! Yang mereka ceritakan  sebenarnya adalah suamiku. Tak terasa butir-butir turun dari mataku.
            “Lho, mengapa ibu menangis?” tanya seoran ibu yang berdiri di sebelah kananku.
            “ Hm..hm…,”Aku tergagap. Buru-buru kuseka air mataku.
            “Terlalu menghayati ceritanya, ya Bu?” tanya yang lainnya.
            Aku hanya mengangguk pelan.
            Suamiku meninggal baru sebulan yang lalu. Namanya Mardi. Sosok laki-laki yang sangat bertanggung jawab. Seorang yang ulet dalam bekerja. Mencari nafkah asal halal pasti dijalaninya. Pernah tetangga meminta dibenarkan saklar listriknya yang koslet, suamiku Mardi bisa melakukannya. Membetulkan genteng milik tetangga pun dilakukannya. Ringan tangan dalam membantu siapa saja. Walau untuk itu terkadang tidak dibayar. “Hidup itu tidak selalu uang. Kadang pekerjaan  sekecil apapun, kalau itu bisa membantu orang lain pasti akan mendapat pahala.” begitu katanya penuh keyakinan.
            Beberapa tetangga  juga bertanya apa ada hal aneh sebelum kepergiannya? Yang aku ingat suamiku itu semakin taat beribadah. Mengajak Aris anakku untuk sholat subhu di mushola. Memasak nasi goreng untukku yang tidak pernah dilakukannya. Dan aku lihat wajah suamiku,  Mardi terlihat lebih putih dari biasa.
            Sehari sebelum kepergiannya ada hal aneh yang dikatakannya. “ Besok di rumah juga banyak orang. Saudara-saudara pada datang.”
            Aku tidak terlalu serius menangapinya. “Guyon nih , Bapak!” jawabku sekenanya.
            “Nah, itu tanda-tanda kepergiaanya, Bu!” jawab tetanggaku kala itu
            Aku hanya tersenyum saja. Bagiku kalau memang sudah waktunya untuk kembali kepada penciptaNya pasti juga akan terjadi. Dan aku sudah ikhlas akan kepergian Mardi suamiku.
            Lamunanku terhenti saat seorang ibu menyenggol bahuku. Kupandangi langit kembali yang terlihat masih mengeluarkan air hujan.
            “Mengapa hujannya belum berhenti juga. Kalau seperti ini terus bagaimana bisa sampai di rumah,” gumamku.
            Beberapa ibu sudah beranjak dari tempat ini. Mereka terpaksa menerobos lebatnya hujan. Aku pun bersiap-siap. Kubisikan pelan dan kuraba cabang bayiku yang berada dalam kandungan,” kita pela-pelan, ya, sayang, kasihan kakakmu menunggu lama.”
            Aku ambil sekedarnya sebagai alas dikepalaku. Saat aku bersiap berjalan, seorang ibu pemilik warung  yang tak lain adalah tetanggaku yang menyodorkan  payungnya,“Pakailah ini!Kasihan bayi yang ada dalam perutmu. Kamu harus sehat, Lastri!” ucapnya.
            Aku mengambil payung pinjamannya. “Terimakasih, Bu!” jawabku.
            Mbok Inem yang biasa aku panggil mengangguk.
            Perlahan aku pun meninggalkan emperan toko itu. Entahlah apa mungkin aku salah dengar, mereka seperti mengucapkan, “Oh...,” secara berbarengan saat Mbok Inem menceritakan siapa aku sebenarnya. Ya, aku adalah istri pedagang buah yang mereka ceritakan tadi. Tapi aku tidak peduli. Aku ingin cepat sampai di rumah. Bertemu dengan Aris, anakku.
            Langkahku semakin ku percepat.  Sebagian orang mengingatkan agar aku berhati-hati,       “Jalannya licin, Bu berhati-hatilah!”
            Aku hanya mengangguk.
            Deru motor dan mobil saling sahut-sahutan. Mereka telihat tidak sabar. Entah! Apakah kehidupan jalan sudah semeraut seperti ini. Aku tidak tahu!
            Kupercepat langkah kakiku. Kuterobos lampu merah. Payung yang aku pakai terlihat berkibar-kibar terkena hembusan angin dan derasnya hujan. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan Aris, anakku. Kugenggam semakin erat plastik kresek ini. Didalamnya masih ada kue cubit dan keong beserta rumah-rumahan. Aku memandang dengan penuh bahagia. Semua permintaanya sudah aku dapatkan.
            Pas tiba di pertigaan sesudah lampu merah aku melihat ke kiri dan ke kanan. Segera aku pun menyeberang. Akan tetapi terdengar samar-samar teriakan orang. AWAS!! MOTOR BU!!
            BRUK!! Tubuhku terpental. Kresek hitam masih kuat berada digenggamanku. Sayup-sayup orang semakin banyak berdatangan. Yang kuingat “Ya Allah…Lastriiiii!” suara Mbok Darmi berteriak histeris.
            Motor yang tadi menambrakku sudah kabur.
            “Mereka yang salah! Sudah tahu lampu merah! Masih diterobos juga! Sayup-sayup masih kudengar seorang ibu berteriak dengan nada marah.
            Beberapa menit kemudian aku merasakan derasnya darah yang mengucur dari kepalaku. Pandanganku perlahan-lahan kabur. Nafaskupun tersengal-sengal seperti ada   batu  besar yang menghimpit dadaku. Yang aku ingat  kresek hitam masih ada digenggamaku.(Hdy- love teach and write)


           



NOTE: Pernah diikutsertakan dalam kelas hukum.