Kamis, 10 Maret 2016

ARINI

Arini memandangku. Pandangannya sangat tajam seakan menembus ujung hatiku. Ah, lagi-lagi aku tidak tega. Tapi apa mau dikata kalau aku sudah tak mencintainya lagi. Padahal bulan depan kalau tidak ada halangan aku akan mempersunting Arini.

"Ada apa, Mas? Ada hal besar sepertinya yang sedang kamu pikirkan?" tanyanya.
Aku terdiam saja. 
"Lho, kok diam sih, Mas. Kalau diam berarti betul ya?" Arini memandangku lagi. Aku tertunduk.

Beberapa menit aku terdiam. Aku salah tingkah. Ada saja yang aku lakukan.Membetulkan bajuku yang sebenarnya tidak kesempitan. Atau membetulkan letak posisi dudukku. Mungkin lebih tepatnya adalah aku hanya memaksakan saja pergerakan dalam diriku supaya rasa grogiku hilang. Dan kalaupun sudah siap aku akan melontarkan kata PUTUS pada Arini.

Namanya Arini. Nama lengkapnya Arini Wulandari. Gadis manis yang kukenal semasa aku SMA dulu. Orangnya sederhana. Sederet prestasipun berjejer ada padanya. Aku lupa mengapa aku sampai suka padanya. Dan mengapa aku mengungkapkan rasa sukaku pada Arini. Yang jelas saat Sayha, sahabatku yang pintar Kimia waktu itu mengenalkanku pada Arini dan memberitahukan kepadaku tentang dirinya saat itu mungkin aku suka. Tapi sekali lagi bukan suka yang dipaksakan. Ini suka sesungguhnya.

"Mas, ibu menanyakan padaku kapan orang tuamu akan datang ke rumah?" Arini memainkan ujung bajunya. Arini menatapku lekat.

DEG! Aku tergagap. Membetulkan posisi dudukku. Saat inilah yang tidak aku ingin dengar dari mulut Arini. Sesungguhnya bukan karena aku tidak siap. Atau mungkin aku tidak mau melepaskan masa kesendirianku,

Umurku memang sudah mendekati kepala tiga. Seharusnya sudah waktunya aku melepaskan masa kesendirianku. Syaiha saja sahabat dekatku sudah mengenapkan separuh agamanya dan sudah dikaruniai seorang anak. "Sudahlah apa yang kamu pikirkan lagi Rul. Arini itu gadis yang baik. Saya sudah kenal dengan orangtuanya. Ayolah, jangan menunda. Segerakan saja. Insya Allah akan menjadi  berkah dan tidak ada mudhorotnyya," ucap Syaiha saat mengunjungi rumahku beberapa waktu yang lalu.

"Gimana Mas?" tanya Arini
Aku diam. Tak bisa menjawab pertanyaannya.