Rabu, 02 Maret 2016

OPIE KURCACI DAN POHON RAMBUTAN


            Hari ini begitu cerahnya. Loki kurcaci dan Opie kurcaci berlari tiada henti. Mereka kejar-kejaran di taman. Di antara taman itu ada kolam ikan yang sangat indah. Kolamnya terbuat dari batu marmer termahal di  kota Walaka.
            “Dar…Der…Dor! Opie, kena!” teriak Loki kurcaci. Opie kurcaci pura-pura tidak tahu. Ia tetap saja berlari. “Iih…curang, sekarang kamu yang jaga!” Loki  kurcaci marah dan bertolak pinggang. Wajahnya dikerutkan. Opie kurcaci menahan tawa. “Kalau kamu marah seperti  Oma-oma he he he,” Opie Kurcaci berlari lagi. Loki kurcaci mengejar. Tak terasa Opie kurcaci dan Loki kurcaci  tiba di depan halaman rumah Kakek Walaku kurcaci. Kakek Walaku kurcaci yang membuat beraneka macam marmer. Marmer yang dibuatnya sangat indah. Dihalaman rumah kakek Walaku ada pohon rambutan yang sangat rindang.
            “Pie... jangan….ma…suk” teriak Loki kurcaci.
Terlambat. Opie kurcaci telah masuk ke halaman Kakek Walaku.
Terpaksa Loki kurcaci juga masuk.
Dipandangi pohon rambutan Kakek Walaku kurcaci. Pohon rambutannya sangat rindang. Tangan Loki kurcaci mampu mengapainya.  “Banyak sekali rambutannya”. Tak sengaja tangan Opie menyentuh rambutan itu. “sepertinya enak!“gumam Opie kurcaci.
Ditengok kanan dan kiri. Sepertinya aman. Hup! 1,2 diambilnya rambutan itu. Tangannya mulai membuka rambutan  lalu dimasukkan ke dalam mulutnya. Hup..Yummy!
“Ssst….apa yang kamu lakukan?” tanya Loki kurcaci. “ Itu bukan milik kita. Lebih baik minta izin dulu!” ajak Loki kurcaci.
Opie kurcaci menggeleng. Opie kurcaci sedang menikmati rambutan yang sudah dipetiknya. “Lihat! Aku akan menambil rambutan yang itu!” tunjuk Opie Kurcaci yang menunjuk rambutan yang sangat banyak. Pada mulutnya terlihat banyak sekali rambutan.
            “Sst…jangan Pie! “ Loki Kurcaci mengingatkan.
Opie Kurcaci tak peduli. Diambilnya galah yang ada disamping pohon rambutan itu. Hup! Tangannya sangat lihai mengambilnya. Tak berapa lama rambutan sudah banyak diambilnya.
             “Cepat Pie! Kita keluar saja!” Loki kurcaci berbisik sambil menarik tangan Opie kurcaci. “Kamu tahukan, rambutan ini milik Kakek Walaku kurcaci. Lebih baik kita minta izin dulu.” ajak Loki Kurcaci.
            Opie Kurcaci tak peduli. Kali ini tangannya mengambil lagi rambutan itu. “ Wah, yang diatas sana warnanya lebih merah.” Opie kurcaci terlihat senang. Ia pun segera menaiki pohon rambuta itu. Hu…hup!! Badannya sangat lincah. Tiba diatas tangannya segera mengambil rambutan itu.” Ini pasti lebiiih….lezat!” begitu teriaknya.
            Loki kurcaci menyuruh Opie kurcaci turun. “Nanti! Aku mau ambil yang banyak!” teriak Opie Kurcaci.
            Loki kurcaci mengeleng. Tiba tiba saja tak berapa lama Opie kurcaci berteriak. Tidak!!
           Apa yang terjadi ya? Olala….ternyata ada pasukan semut rangrang  mengelilingi Opie kurcaci dengan terburu-buru Opie Kurcaci turun. Tapi tiba –tiba saja BRUK! Opie kurcaci terjatuh. Ia menginjak dahan pohon yang lemah.
            “Aduh!” teriak Opie kurcaci.
            Dipegang lututnya yang berdarah. Badannya pun terluka.
            Loki kurcaci segera membantu.
            Dari dalam rumah Kakek Walaku keluar.Karena mendengar teriakan Opie.” Ada apa ini?” teriakkakek Walaku. 
            Opie meringis. Kakek Walaku mendekati membantu Opie  bangun. Opie terlihat malu. Kemudian  kakek Walaku mengajak Opie kurcaci ke dalam. Opie kurcaci berjalan sambil meringgis.Kakek Walaku dan Loki kurcaci membantu Opie kurcaci.
            Diambilnya kotak obat. Dibersihkan luka Opie kurcaci. Opie Kurcaci sdikit meringis menahan perih. Nah!Sudah selesai sekarang!” ucap Kakek Walaku.
            Opie kurcaci menahan malu. Kakek Walaku kurcaci sangat baik. Ia tidak marah.
            “Maafkan Opie ya, Kek! Karena mengambil rambutan kakek!” ucap Opie kurcaci.
            Kakek mengangguk. “ Kakek suka dengan keberanianmu mengakui kesalahan,” ucap Kakek Walaku.
            Andai saja Opie tidak mengambil rambutan tanpa izin pastinya ia tidak akan terjatuh. Tapi apalah daya nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada yang perlu disesali. Tapi bagi Opie berani mengakui kesalahan jauh lebih penting dari itu.