Rabu, 23 Maret 2016

SEKEPING RINDU

Siang itu langit tampak mendung. Perlahan awan mulai gelap. Tak berapa lama turunlah tetes testes hujan kecil kemudian semakin lama semakin membesar. Gemuruh terdengar bersahut-sahutan.Kututup jendela perlahan. Kalau hujan seperti ini ada sekeping rindu yang perlahan masuk kerelung hatiku. Entah sudah tidak bisa aku hitung rindu ini hadir, yang pasti sudah lama rindu ini begitu mengelayutiku.

"Mi, siang ini jadi  kemakam abi, Mi?" tanya Alif anakku yang paling kecil membuyarkan lamunanku.
"Jadi ya, Mi! Kakak udah kangen sama Abi." ucap Alifia anakku yang pertama.

Aku mengangguk perlahan,"Insyaallah, ya, sayang. Kita ke makam Abi,Kalau hujannya sudah reda," jawabku.
"Hore. Terimakasih umi," Alifia terlihat senang sekali. Begitupula Alif tak kalah senangnya.

Aku kembali tertegun saat Alif dan Alifia masuk kedalam kamar mereka.
Sebenarnya rindu ini selalu hadir. Apalagi disaat hujan seperti ini. Entah mengapa. Mungkin kalau orang bilang karena ada cerita dibalik hujan sehingga selalu saja tetes air mata ini turun. Mungkin orang menyebutnya aku ini  terlalu BAPER.

Hari ini tepat 5 tahun  kepergian Mas Bayu. Ada sekeping rindu yang selalu kutitipkan pada hujan. Ada bulir bulir air mata yang selalu mengalir.

Ibu juga sering memergokiku menangis saat hujan turun. " Wajar Yen jika kamu masih kangen dengan suamimu, tapi jangan berlama-lama dalam kesedihan. Do'akan saja suamimu itu," ibu selalu mengingatkan diri ini.

Aku masih ingat sekali saat  Iman mengenalkanku pada temannya. Kala itu aku ditanya kesiapannya untuk menikah. Lalu tak berapa lama aku pun memberikan biodata singkat tentang diriku. Isinya seperti ini.
"Nama saya Yeni, saya anak ke 3 dari 3 bersaudara. Seorang trainer , sudah S1 mngharapkan laki-laki sholeh yang didalamnya banyak cinta kepada Allah."

Itu isi dari biodata singkatku. Dan akhirnya aku dan Mas Bayu dipertemukan. Laki-laki yang sederhana dan berkacamata. Tak memerlukan waktu lama hingga akhirnya kami dipertemukan di pelaminan. Mungkin ini namanya jodoh.

Selang 3 bulan pernikahan Alhamdulillah aku diberikan amanah mengandung anak pertama. Dan bulan Februari aku melahirkan anak yang kuberi nama Alifia Rahmani.  Anak yang cantik dan sholehah. Ketika Alifia berumur  dua tahun,  Allah memberikan aku amanah kembali dengan kehamilannku yang kedua.
Alhamdulillah kehamilanku yang kedua juga tidak terlalu memberatkanku.  Aku masih bisa beraktivitas secara normal. Dan saat melahirkan, Allah mudahkan aku tanpa operasi.

Suamiku Mas Bayu adalah seorang pengajar. Kecintaanya pada dunia mengajar  yang membawa Mas Bayu menjadi wali kelas  dan guru yang disukai anak didiknya. Mas Bayu seorang guru  yang ramah dan Bapak bagi anak-anakku yang  luar biasa.

Kepergian mas Bayu pada hari Rabu itu adalah pertemuan yang terakhir. Aku masih ingat  Mas Bayu pamit untuk mengajar. Setelah sebelumnya membantuku menyuci baju.
"Nanti terlambat, Mas," kataku waktu itu.
"Tidak terlambat Umi, karena hari ini anak anak libur. Dan guru masuk hanya untuk rapat saja," jawabnya.

"Oiya, hari ini masak apa um?" tanyanya. "Kok Mas pengen sayur asem, dan ikan balado ya?"lanjut Mas Bayu.
" Hmm, mas mau dimasakin sayur asem?" tanyaku . " Insyaallah, Mas, nanti Umi masakain ya!" jawabku sambil mengusap pundaknya dengan lembut.

Sebelum berangkat, Mas Bayu masih sempat bercanda dengan Alifia anakku yang pertama, dan tadi malam pun kami tidur berempat. Hal yang menurutku sangat jarang dilakukan Mas Bayu.
"Dede Alif!  Jagain Umi ya kalau sudah besar," begitu katanya setelah mencium kening anakku Alif yang masih berusia 6 bulan.

Jarum jam  menunjukkan pukul 9 malam. Mas Bayu belum juga pulang. Perasaanku jadi tidak menentu. "Apakah banyak tugas di sekolahnya?" Aku tidak berusaha menelepon karena handpone Mas Bayu tertinggal.
Kupandangi aneka masakan yang masih tersaji cantik dimeja. Aku juga sudah menghangatkan sayur asem pesanan Mas Bayu. "Ayo pulang Mas, masakan sudah menantimu," desahku.

Lama menanti kabar, ibu mertuaku memberitahu lewat telepon bahwa Mas Bayu kecelakaan.
"Bagaimana keadaanya, Bu?" tanyaku sambil menggendong Alif yang masih berumur 6 bulan. Alif juga menangis. Kucoba untuk mendiamkan Alif. Tapi tampaknya tak berhasil.

"Suamimu, tidak apa-apa," jawab ibu mertuaku diujung sana.
"Ah, syukurlah!" gumamku.
"Kamu diam dirumah saja. Ibu yang akan urus semua. Jaga anak baik-baik." ucap ibu mengakhiri pembicaraan.

Tapi entah! Aku masih gelisah. Aku tidak tahu.
Telepon milik Mas Bayu berkali-kali terdengar. Saat aku buka banyak SMS yang masuk.

"Turut berduka cita Mba, semoga Bayu mendapatkan tempat terbaiknya disisi Allah,"  begitu yang tertulis di sms.
"Inalillahi wa innailahi roojiun, semoga diampunkan dosanya." tertulis sms lainnya.

Aku jadi semakin gelisah. "Ada apa sebenarnya? Mengapa orang semuanya menulis seperti itu?
Dalam kekalutanku temannya Mas Bayu menelpon dan mengabarkan Mas Bayu memang kecelakaan tapi tidak terjadi hal yang menghawatirkan.

"Mas Bayunya tidak apa-apa, Bu!" ucap suara dari seberang sana.
"Benar Pak! Tidak apa apakan Mas Bayu? Bagian mana yang kena Pak?
"Saya mau bicara dengan Mas Bayu,Pak!" Mas Bayu sehatkan, Pak!" tanyaku bertubi-tubi.

"Tidak apa apa Bu! Ibu yang tenang saja, ya!" jawabnya lalu menutup teleponnya.

Hatiku masih gelisah, Bunyi sms masuk dari handphone terus berlanjut yang menyatakan turut berdukacita. Ah , Ya Allah ingin sekali aku berteriak waktu itu. Apa yang terjadi?

Saat aku menyeka air mataku, Bu Neti tetanggaku datang tergopoh gopoh mengajakku untuk ke rumah mertuaku.

"Lebih baik kita sekarang ke rumah ibu mertuamu Mba Yen!"
"Memangnya ada apa?" tanyaku setengah berteriak.
"Sebenarnya saya melihat suami Mba Yeni hmmm..." Bu Neti tampak enggan melanjutkan.
"Ada apa, Bu? Ibu melihat apa?" Ada apa dengan suamiku, Bu?" tanyaku dengan penuh tanda tanya.
"Suami Bu Yeni kece...lakaan ," ucapnya pelan.
"Dari mana Mba tau?" tanyaku
"Tidak sengaja lewat daerah sana. Kebetulan macet total karena ada kecelakaan. Waktu itu pengendara motornya menghindari lubang yang ada dipinggir jalan. Jalan jugaa licin karena habis turun hujan." Mba Neti menjelaskan. " Dan suamimu..." Mba Neti terlihat ragu. Ada sesuatu yang disembunyikannya.
"Dan apa?" tanyaku sambil menguncang tubuhnya.
"Lebih baik kita segera kesana mba!" jawabnya.
Aku kalut. Tanda tanya besar belum terjawab. Aku segera bergegas ke rumah ibu mertuaku, Alif dan Alifia aku titip di ibuku. Aku dan Mba Neti pergi kesana.

Tiba disana aku dapati ada bendera kuning. "Ya Allah siapa yang meninggal?" teriakku.
Kupercepat langkahku. Sontak ibu mertuaku kaget bukan kepalang melihatku sudah berdiri di depan pintu.

"Yen eh...Yen sama siapa kesini?" tanya ibu mertuaku.
Aku tidak menjawab. Badanku terasa lemas. Didepanku sudah ada seseorang yang terbujur di tutup dengan kain batik berwarna cokelat. " Siapa itu, Bu?" tunjukku lemas.

Ibu mertuaku menahan tangis. Berusaha memegang pundakku. Ibu mengatakan tidak ingin menceritakan yang sebenarnya karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Aku memang tidak boleh kaget dalam mendegar sesuatu hal.  Sehingga kematian Mas Bayu disembunyikan. Perlahan lahan aku terkulai lemas tak berdaya. Air mata ini sungguh tak bisa keluar. Antara percaya dan tidak! "Ya Allah!" desahku lemah.

"Diikhlaskan saja Yen! Dan dimaafkan kesalahannya!" seseorang membisikan ketelingaku.
Aku dibopong ke tengah ruangan. Pembacaan yasin mulai terdengar. Tapi diri ini masih belum percaya.

Perlahan kudekati dan kubuka kain penutup wajahnya. Kulihat disana seorang laki-laki tertidur lelap dan ada senyum diwajahnya. "Mas...mengapa tinggalkan Yeni!" bisikku pelan.
"Bangun Mas! Bangun! Ini Yeni. Yeni sudah masakin Mas sayur asem dan ikan balado. Ayo kita pulang Mas!" ucapku lirih.
Mba Neti mulai menarikku. Ia juga berusaha memelukku dan mengatakan,"Yang kuat mba Yen!
Bagiku ini seperti mimpi.Allah begitu mudanya mengambil seseorang. Ya, seseorang yang aku cintai.
"Ya Allah!!' teriakku.

Sorenya aku  mengantarkan suamiku ketempat peristirahatan terakhir. Sungguh kenangan hari Rabu adalah kenangan yang tidak bisa dilupakan.

"Ayo Mi hujannya sudah reda," Alif menarik dan membuyarkan lamunanku.
"Iya, Mi sekarang saja. Tu hujannya sudah reda," jawab Alifia sambil melongok keluar jendela.

Aku dan anakku segera ke makam. Makamnya tidak jauh dari rumahku. Setelah sampai di makam Alif dan Alifia segera berlari. Aku mulai membersihkan rumput-rumput yang ada. Alif pun mulai merapal doa. Mulutnya terlihat komat kamit. Anakku Alifia tidak mau kalah doa diucapkan," Abi semoga abi disurga ingat aku ya!"


Aku menatap tempat peristirahatan Mas Bayu.  Ya, sekeping rinduku terkubur disini. Hanya doa yang aku dan anak anak panjatkan. "Semoga Allah akan mengumpulkan kita di surganya kelak," ucapku pelan sebelum meninggalkan tempat peristirahatan Mas Bayu. (Hdy love teach &write)