Sabtu, 09 April 2016

HARI ESOK UNTUK MANG IJUNG




Rohidah terlihat sedih. Kali ini Mang Ijung pulang dengan tangan hampa.
“Kering, Bu! Enggak ada tangkapan hari ini. Terpaksa makan pakai garam lagi, Bu!” Mang Ijung tak bersemangat. Dijemurnya jaring-jaring di depan teras. Dibiarkan sisa airnya menetes ke tanah. Lalu di lapnya keringat yang mengucur dari balik topinya.




Rohidah menghela nafas panjang. Ia hanya diam saja,  sesaat kemudian  Rohidah beranjak masuk ke dalam. Ia bergegas ke dapur. Dibuatkan teh hangat untuk suaminya. Setelah itu, matanya melirik tempat gula. Oh, ternyata sudah habis “Rasanya bakalan pahit!" gumam Rohidah. 
Sekarang, hidupnya saja sudah semakin pahit. Batin Rohidah semakin berkecamuk antara sedih dan tidak.Karena besok tidak tahu harus makan apa.
Di ambilnya sendok lalu tempat gula sedikit demi sedikit dibersihkannya. Berharap ada sedikit gula, kemudian diaduknya perlahan   air teh itu.

Setelah selesai, ia segera bergegas menemui suaminya yang sedang berada di teras rumah. "Diminum dulu tehnya."

Mang Ijung mengangguk. Ia lalu memberi isyarat kepada Rohidah untuk mengambilkan kipas yang terbuat dari anyaman kayu. Maklum untuk dirinya dan keluarganya kipas elektronik sangat mahal harganya. Tak sangup dirinya untuk membeli kipas angin seperti itu.

Rohidah memandang lekat lekat suaminya itu. Ada kegelisahan terpancar dimatanya. Mau makan apa esok dan esoknya lagi. 

Hasil tangkapan ikan sudah seminggu ini tidak bisa membuat Rohidah dan anak-anaknya makan dengan terpenuhi gizinya. Paling seadanya saja. Untuk makan dengan daging pun jarang sekali. Paling makan pakai daging sapi atau kambing hanya setahun sekali. Itu pun pas lebaran Idul fitri dan idul Adha saja.

SLURUP! Diminumnya air teh hangat buatan istrinya. Matanya tiba tiba dibesarkan.
 “Ada apa Pak?” Rohidah pura –pura tidak tahu.
“Kok tidak manis, Bu?”
“Gulanya habis,Pak! Lagi pula bapak kan tidak boleh minum yang terlalu manis. Enggak bagus untuk kesehatan,” Rohidah berkelit.

Mang Ijung tertawa melihat alasan istrinya. Ia tahu pasti pendaringan sudah kosong.
“Gara-gara reklamasi pantai membuat hasil tangkapan ikan semakin sedikit!” Mang Ijung tampak geram.
“Apa, Pak? Reklame? Apa itu?” Rohidah terlihat tak mengerti.
“Bukan Reklame tapi reklamasi. Reklamasi pantai. Hasil laut semakin kering dan menipis, Bu!" jawab Mang Ijung.
"Semua nelayan semakin kering hasil tangkapannya. Biasanya sampai 100 kg sekarang paling sedikit 5 kg. Huh! Nasib...nasib!" Lanjut Mang Ijung sambil melempar topinya. Ia terlihat geram.

"Sabar, Pak! Semoga Allah akan mudahkan Bapak dan nelayan lainnya menangkap ikan lagi," Rohidah mengusap lembut punggung suaminya.

Rohidah sebenarnya sadar akibat reklamasi pantai membuat hasil tangkapan ikan semakin sedikit. Dan nelayan lainnya seperti tidak berdaya pada keadaan ini. Nelayan semakin sulit mencari ikan di Teluk Jakarta. Kalaupun harus melaut maka harus berlayar sampai jauh.


"Bayangkan, Bu! Jika sekali melaut harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Sedangkan hasil tangkapan hanya 5kg. Balik modal juga kaga!" Hidup...oh hidup. Beginilah."

Sesaat terdengar azan ashar. Mang Ijung terlihat bersiap beranjak. "Mau kemana, Pak! tanya Rohidah.
"Ya, sholatlah, Bu! Sudah miskin hidup kita tapi untuk keimanan jangan sampai kita miskin juga, Bu!" jawab Mang Ijung tersenyum.

"Alhamdulillah!" Rohidah bersyukur memiliki suami seperti Mang Ijung. Semoga saja Allah akan memberikan hari esok yang lebih baik untuk dirinya , Mang Ijung, dan nelayan-nelayan lainnya. ( Hdy- love teach & write)










#ODOP 2
#TUGAS MENGAMATI SEKITAR