Senin, 18 April 2016

KUNCI KENANGAN NAILA

Kamu tahu LUMPUR? Katamu lumpur berada di tanah, becek dan sering diinjak orang saat mereka berjalan. Bagiku  BUKAN! Lumpur menurutku terjadi karena keserakahan manusia. 

Aku ingat betul saat aku masih kecil lumpur menggenang dimana mana. Dari sedikit yang kena menjadi meluas. Aku sendiri tidak tahu siapa yang salah. Keserakahan manusiakah? atau memang karena alam yang sudah tidak bersahabat. 
Padahal menurut yang aku tahu manusia jangan serakah dalam mengambil kekayaan alam yang ada. Melainkan  harus dijaga dan dilestarikan.
"Telah nampak kerusakan dibumi akibat ulah tangan manusia."

Ah, sudahlah tak perlu dibahas masa kecilku tentang lumpur. Kau masih saja disana menyeruput teh pahit itu seakan tak peduli keberadaanku yang menunggu sejak tadi. Sungguh aku sedang menunggu jawabanmu tentang lumpur yang berada dikubangan. Menurutmu itu aku? Hah! Tak salahkah aku mendengarnya?

Hei Bung! Sungguh aku tidak mau selamanya berada ditempat seperti ini. Berada dibarisan peminta-minta berpakaian rapi. Berada dibisingnya musik yang membuat telingaku sakit jika harus selalu mendengarnya. Berada diantara mereka yang memberikan senyuman palsu. Sungguh aku rindu tempat yang lain. Aku rindu ketenangan jiwa yang selama ini tidak aku dapati ditempat ini. Aku ingin menjadi ibu yang baik untuk anakku nanti.

"Aku ingin berubah tidak berada dilumpur ini lagi"

Hidupku ini sudah susah. Jika di dunia saja selalu  susah masa  diakhirat juga susah?
Saat malaikat pembawa catatan memberikan buku catatan keburukanku. Sungguh aku tidak mau hal itu terjadi. Kau tahu dunia tidak ada habisnya jika selalu dikejar. Ada hal lain saat ini yang harus aku raih . Aku ingin bersinar seperti BINTANG.

Kau tahu bintang saat malam tiba bintang terlihat menyala. Memancarkan kerlipnya yang indah. Susah dijangkau. Berada di langit yang tinggi.
Sewaktu aku masih kecil ibu menyanyikan lagu binatang untukku
Dilangit bintang bersinar
cahyanya sampai ke bulan..

Ah, aku ingin menjadi bagian dari benda-benda langit. Salah satunya bintang yang berada dilangit. Memandangnya membuatku takjub. Ah, andai ibuku masih berada disisiku pasti aku tidak akan pernah kesepian.

Kini ketidakberadaan ibu membuatku RINDU. Aku begitu rindu. Rindu akan belaian kasih sayangnya. Aku rindu semuanya. Rindu masakan ibu dengan sayur lodeh, dan ikan jambal terasi. Ah, ibu mengapa engkau pergi mendahuluiku disaat aku beranjak remaja engkau menghilang bersama banjir bandang yang menghancurkan perkampungan kita.
Masih terekam dalam ingatan saat terakhir engkau menyuruhku sholat subuh, engkau mengelus rambutku lembut 
dan mengatakan," Jangan pernah tinggalkan sholat walau kondisi apapun, Naila."
Itu kata-kata  terakhirmu yang kuingat.

Lamunanku terhenti saat, kau sudah selesai menyerumput teh pahit terakhirmu. 
Kau tiba-tiba memandangku. Aku tahu ada hal licik dipikiranmu. Saat kau hendak mendekat, suasana tiba-tiba menjadi gaduh. Semua berlari berhamburan. Aku tak bisa mendengar dengan jelas hanya aku lihat kepanikan semua orang yang berhamburan. Dan kaupun tidak berusaha menarik tanganku. Aku masih terdiam dibangku. Namun yang aku rasakan ada hawa panas dan ada nyala api yang menjalar semakin cepat. Sontak aku kaget. Kulihat tas kecilku tidak ada digengaman. Aku kaget. Dimana tas kecilku. Oh, tidak! Tas kecil itu berada dibangku berwarna merah. Didalamnya ada KUNCI. Itu bukan sembarang kunci. Itu adalah kunci kotak kenanganku. Banyak barang-barang peninggalan ibu yang aku masukan kedalam kotak itu. 

Aku berusaha berlari. Alma berusaha menarik tanganku tapi aku meronta. Aku masuk ke dalam kobaran api. Aku ingin menyelamatkan kunci. Sebagian orang berteriak. Tapi aku tidak memedulikan.

BRUK! Aku terjatuh saat tanganku sudah bisa mengapai dompet merahku. Hawa panas terasa menyentuh kulitku. Pandanganku kabur namun perlahan aku melihat sosok ibu mendekatiku. Ah, tetes air mata jatuh dipelupuk mataku. Aku berteriak. "Ibu! Naila kangen Ibu!" 
Ibu memelukku erat. "Kuncinya ada di sini, Naila. Ini kunci kenanganmu , sayang!"
Aku mengambil kunci dari tangan ibu. Lalu aku pun membalas pelukan ibu. 
Wangi aroma bunga melati tercium sekali. Aku tidak merasakan apa -apa lagi. Yang aku ingat, ibu membisikan sesuatu,"Sudah waktunya, Naila! Bermainlah disini bersama ibu." (Hdy-love teach & Write)