Senin, 22 Maret 2021

NGOPI SANTAI MENCARI ILMU BARENG BANG AMAR

    


    Hai ketemu lagi dengan blog saya semoga ngak bosan ya. Bagaimana kabarnya pengeluaran dan pemasukan? Semoga masih aman ya. Aman terkendali. Mungkin ada juga bolong-bolongnya lalu ditambal dengan apapun kemampuan kita baik jualan atau yang lainnya dan semoga keberkahan selalu menyertai ketika berusaha.  Berusaha secara  mandiri dengan finansial yang ada dan membuka peluang-peluang usaha yang pastinya asalkan halal.
     Nah, pas banget dengan kegiatan kemarin yang saya ikuti ngopi santai bareng bang Amar. Tentang pengelolaan finansial ditengah pandemi seperti ini. Membuat mata menjadi jeli, telinga menjadi waspada dan keinginan sedikit ditekan yang penting-penting saja yang harus dibeli atau dimiliki.



        Jadi saat kita memiliki keuangan harus bijak melakukan pengelolaan. Bedakan antara keuangan keluarga dengan keuangan usaha. Jangan dicampur. Perhatikan pula ada beberapa hal dalam pengeluaran keuangan. Menurut pemateri yang merupakan seorang finansial keuangan senior Aidil Akbar Madjid ada beberapa hal yang harus diperhatikan keuangan keluarga, diantaranya

  • Harus sehat keuangan keluarga, jangan besar pasak daripada tiang, besarnya pengluaran daripada pemasukan.
  • Bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan.  Keduanya ini sangat berbeda. Jangan selalu menuruti keinginan misal ada barang yang fungsinya sama tapi merknya berbeda lalu membelinya lagi. 
  • Biasakan menabung. Menabung dengan komitmen yang tinggi walau sedikit lama lama jadi banyak. Nah, sayapun seperti itu. Secara saya ngak kuat kalau lihat discount bertebaran dari sepatu,tas , dan baju itu aja hihih.
  • Atau berinvestasi. Untuk saya pribadi belum terlalu dengan investasi paling saya inves di emas saja. Itupun kalau lagi ada rizki saya bisa belinya.

        Lalu bagaimana caranya kalau kita memiliki usaha? Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengelola usaha keluarga, diantaranya
  • Terpisah dengan keuangan keluarga. Jangan disatukan.
  • Bisa menentukan biaya 
  • Bisa menentukan harga jual 
  • Bisa membayar cicilan (bila ada) 
  • Bisa mengatur cash flow keuangan

        Pengalaman pribadi ketika saya amati kadang saya campurkan pengelolaannya nah ini mungkin jadi yang tidak bisa terlihaat arah dari perjalanan keuangannya. Sehingga ketika barang sudah habis terjual ternyata keuntungan pun tidak ada. Nah kalau seperti ini jangan di tiru ya. 

        Lalu bagaimana prosentase membuat pengeluaran dan post-postnya? Menurut Aidil Akbar beberapa post pengeluaran harus diperhatikan, yaitu:

  • 10% untuk zakat dan lainnya
  • 20% masa depan
  • 40% kebutuhan
  • 30% cicilan jika memiliki cicilan. Juka tidak alokasinya bisa untuk tabungan masa depan atau bahkan bisa menaikan zakat dan lainnya.

        Selain Aidil Akbar menjadi pembicara. Ada juga  Tsarah dari   yang mengatakan bahwa 8 dari 10 wanita sudah memiliki usaha. Nah sisanya mungkin ada yang masih bingung memulai dari mana atau bahkan kurang Pd ketika memulainya. Atau bahkan modal yang belum ada. 




   Nah sebagai solusinya menurut Tsarah ada yang namanya adalah Tunaiku. Namun untuk peminjaman Tunaiku diperhatikan dengan cermat ketika meminjamnya perhatikan besarnya dana yang dipinjam dan bisakah saya menyisihkan untuk memulangkannya dalam beberapa waktu. Ingat kalau yang ini harus bijak dalam mengambil pilihan ini ya. 

     All, semoga saja kita menjadi orang orang yang bisa secara mandiri mendirikan usaha ya. Ingat jangan besar pasak dari pada tiang ini juga menjadikan remainder buat saya pribadi. Salam sukses selalu.












Sabtu, 20 Maret 2021

PERMOHONAN MAAF ALIKA

                                                                     

                                                Penulis Hidayati Nur

Suatu ketika ada seorang anak yang bernama Rara. Rara merupakan murid pindahan dari kota. Ayah Rara pindah kerja, mau tidak mau Rara harus ikut serta. Adaptasi baru dimulai karena Rara memiliki kekurangan secara fisik. Rara hanya memiliki satu kaki. Satu kaki yang lain tak berfungsi. Rara menggunakan tongkat saat berjalan.

“Perkenalkan anak-anak, kalian akan mendapatkan teman baru. Rara Namanya. Adakah yang bersedia berbagi tempat duduk dengan Rara?” tanya bu guru.

Semua tidak ada yang menjawab. Semua terdiam. Lalu mata Ibu guru tertuju pada bangku Alika. “ Alika, Rara duduk di sebelahmu, ya?” tanya bu guru.

Alika terkejut. “ Duh, mengapa harus ditempatku sih,” bisiknya dalam hati.

“Bagaimana? Boleh, ya, Alika? “ tanya bu guru lagi. Alika mengagguk  dengan terpaksa.

“Silakan Rara, duduk di sebelah Alika ya. Rara mengangguk. Ia mendekati kursi Alika. Alika terdiam tidak menyukainya apalagi tersenyum.

Suatu hari saat Rara  keluar main pun seperti itu, Alika membiarkan bermain sendiri dan membiarkan saja saat Rara terjatuh, terjatuhya terjatuh padahal Alika mengetahuinya.

“Kasihan sekali tadi Rara terjatuh, padahal ada Alika, namun Alika tidak membantunya.” cerita satu temannya kepada yang lain. 

“Mungkin saja Alika ngak mendengar saat Rara terjatuh tadi, jadi tidak membantunya kan bisa saja,” sanggah teman lainnya.

Alika yang mendengar hal itu merasa bersalah sekali. Padahal sejujurnya Alika mengetahui saat Rara terjatuh. Tapi ia enggan untuk membantunya. Ah, untuk kejadian ini Alika merasa sangat menyesal.

Hingga pada suatu hari saat Bu guru memberikan kegiatan perlombaan menggambar antar kelompok , Alika tergabung dengan Rara. Sebenarnya ia tidak mau tapi apa mau dikata Alika tidak bisa memilih. 

“Aku yakin kita bisa menang Alika,” ucap Rara bersemangat.

“Aku tidak bisa menggambar dan mewarnai,” ucap Alika terlihat malas menanggapi perlombaan ini. 

“Tenang saja, aku bisa,tapi untuk tulis menulis kamu jagonya Alika. Nanti kamu yang menulis, ya!” ucap Rara.

Alika melihat kegigihan  Rara. Saat mengambar dan mewarnai Rara ternyata sangat jago sekali. Arsiran dan warnanya seperti orang yang sudah sangat terlatih.

“Wah, sepertinya kelompok kalian yang akan mewakili sekolah, kita,” ucap Bu guru.

Alika terkejut. “Masa iya, Bu? Dalam rangka apa? “ tanya Alika heran.

Ternyata lomba ini diadakan dalam rangka hari kebersihan nasional . “Kolaborasi yang sangat bagus, Alika pintar menulis indah, dan Rara pintar mewarnai dan mengambar,” ucap Bu guru.

Diam-diam Alika sangat kagum dengan Rara, dibalik kekurangannya ternyata Rara menyimpan kelebihan yang luar biasa. Ia pun meminta  maaf atas kesalahannya selama ini yang tidak ramah terhadap Rara.