Sabtu, 20 Maret 2021

PERMOHONAN MAAF ALIKA

                                                                     

                                                Penulis Hidayati Nur

Suatu ketika ada seorang anak yang bernama Rara. Rara merupakan murid pindahan dari kota. Ayah Rara pindah kerja, mau tidak mau Rara harus ikut serta. Adaptasi baru dimulai karena Rara memiliki kekurangan secara fisik. Rara hanya memiliki satu kaki. Satu kaki yang lain tak berfungsi. Rara menggunakan tongkat saat berjalan.

“Perkenalkan anak-anak, kalian akan mendapatkan teman baru. Rara Namanya. Adakah yang bersedia berbagi tempat duduk dengan Rara?” tanya bu guru.

Semua tidak ada yang menjawab. Semua terdiam. Lalu mata Ibu guru tertuju pada bangku Alika. “ Alika, Rara duduk di sebelahmu, ya?” tanya bu guru.

Alika terkejut. “ Duh, mengapa harus ditempatku sih,” bisiknya dalam hati.

“Bagaimana? Boleh, ya, Alika? “ tanya bu guru lagi. Alika mengagguk  dengan terpaksa.

“Silakan Rara, duduk di sebelah Alika ya. Rara mengangguk. Ia mendekati kursi Alika. Alika terdiam tidak menyukainya apalagi tersenyum.

Suatu hari saat Rara  keluar main pun seperti itu, Alika membiarkan bermain sendiri dan membiarkan saja saat Rara terjatuh, terjatuhya terjatuh padahal Alika mengetahuinya.

“Kasihan sekali tadi Rara terjatuh, padahal ada Alika, namun Alika tidak membantunya.” cerita satu temannya kepada yang lain. 

“Mungkin saja Alika ngak mendengar saat Rara terjatuh tadi, jadi tidak membantunya kan bisa saja,” sanggah teman lainnya.

Alika yang mendengar hal itu merasa bersalah sekali. Padahal sejujurnya Alika mengetahui saat Rara terjatuh. Tapi ia enggan untuk membantunya. Ah, untuk kejadian ini Alika merasa sangat menyesal.

Hingga pada suatu hari saat Bu guru memberikan kegiatan perlombaan menggambar antar kelompok , Alika tergabung dengan Rara. Sebenarnya ia tidak mau tapi apa mau dikata Alika tidak bisa memilih. 

“Aku yakin kita bisa menang Alika,” ucap Rara bersemangat.

“Aku tidak bisa menggambar dan mewarnai,” ucap Alika terlihat malas menanggapi perlombaan ini. 

“Tenang saja, aku bisa,tapi untuk tulis menulis kamu jagonya Alika. Nanti kamu yang menulis, ya!” ucap Rara.

Alika melihat kegigihan  Rara. Saat mengambar dan mewarnai Rara ternyata sangat jago sekali. Arsiran dan warnanya seperti orang yang sudah sangat terlatih.

“Wah, sepertinya kelompok kalian yang akan mewakili sekolah, kita,” ucap Bu guru.

Alika terkejut. “Masa iya, Bu? Dalam rangka apa? “ tanya Alika heran.

Ternyata lomba ini diadakan dalam rangka hari kebersihan nasional . “Kolaborasi yang sangat bagus, Alika pintar menulis indah, dan Rara pintar mewarnai dan mengambar,” ucap Bu guru.

Diam-diam Alika sangat kagum dengan Rara, dibalik kekurangannya ternyata Rara menyimpan kelebihan yang luar biasa. Ia pun meminta  maaf atas kesalahannya selama ini yang tidak ramah terhadap Rara.

 



 


Tidak ada komentar: